Wednesday, October 7, 2015

Focus Group Discussion

Focus Group Discussion atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah Kelompok Diskusi Terfokus merupakan metode yang populer dan banyak digunakan dalam riset kualitatif dalam ilmu-ilmu sosial. Meskipun dikembangkan sekitar 75 tahun yang lalu, namun metode ini tidak begitu dikenal sampai kebangkitannya lagi sebagai metode yang mendapat banyak ketertarikan akhir tahun 1970. Metode ini menjadi populer dalam bidang psikologi dalam dekade terakhir, yaitu ketika riset kualitatif mulai berkembang dan semakin dapat diterima diantara dominasi disiplin kuantitatif.
Penggunaan focus Group Discussion (FGD) pertama kali dapat dilacak pada tahun 1920-an, yaitu ketika psikolog Emory Bogardus dan Walter Thurstone menggunakannya dalam rangka pengembangan instrumen. Meskipun kemudian "penemuan" mereka tersebut lebih sering dihubungkan dengan sosiolog Robert Merton serta dua koleganya Patricia Kendall dan Marjorie Friske tahun 1940-an. Tim riset Merton mengembangkan 'wawancara-kelompok terfokus' untuk mengungkap informasi dari para pendengar mengenai tanggapan mereka terhadap program-program radio. Sejak itu, teknik mereka dikenal(secara beragam) sebagai "wawancara kelompok" atau wawancara focus group, istilah "focus Group" paling sering digunakan untuk membedakannya dengan pendekatan dari berbagai bentuk proses kelompok yang lebih berorientasi psikodinamika.
Metodologi focus Group, sepintas lalu, sepertinya sederhana. Focus Group adalah suatu cara mengumpulkan data kualitatif. Pada esensinya focus Group melibatkan beberapa orang dalam jumlah kecil pada suatu diskusi kelompok informal. Focus Group "memfokuskan" pada topik tertentu atau beberapa isu.
Diskusi kelompok informal biasanya dilakukan berdasarkan pada beberapa pertanyaan ("jadual focus group). Peneliti secara umum bertindak sebagai "moderator" : melontarkan berbagai pertanyaan, menjaga agar diskusi tetap mengalir, dan mendorong para peserta agar berpartisipasi secara penuh. Meskipun focus group terkadang dimaknai sebagai "wawancara kelompok", namun Moderator tidak menyampaikan pertanyaan pada masing-masing pertisipan secara bergiliran-Moderator, cenderung hanya memfasilitasi diskusi kelompok, kemudian secara aktif memberikan dorongan pada para anggota kelompok agar saling berinterakti. Interaksi antarpartisipan penelitian ini merupakan ciri utama dari riset focus group - dan yang menjadi pembeda dengan wawancara satu persatu.

Dibandingkan dengan wawancara, focus group bersifat "naturalistik" (yaitu lebih mendekati perbincangan keseharian). Mereka biasanya memunculkan proses komunikasi yang cukup beragam-misalnya bercerita, bercanda, berargumentasi, omong-kosong, menyindir, persuasi, menantang, dan menampilkan ketidasetujuan. Kualitas dinamika interaksi kelompok yaitu ketika para partisipan berdiskusi, berdebat dan (terkadang) berbeda pendapat tentang permasalahan pokok, pada umumnya merupakan ciri yang paling menonjol dari focus group.

Biasanya, diskusi focus group direkam secara auditif dan data yang ada ditranskripsidan kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik konvensional untuk data kualitatif. Paling sering digunakan analisis isi atau analisis tematik. Dengan demikian focus group dapat dibedakan dengan yang lain dalam hal metode dan jenis pengumpulan data (yaitu dengan menggunakan diskusi kelompok informal). Tidak bbanyak terdapat perbedaan dalam metode analisis data dalam focus group discussion.
Alasan satu alasan atas popuralitas riset focus group adalah fleksibilitas dalam metode yang digunakan. Focus group dapat digunakan sebagai metode kualitatif yang berdiri sendiri, atau dikombinasikan dengan teknik-teknik kuantitatif sebagai bagian proyek multimetode. Metode ini dapat diterapkan dalam laboratorium psikologi ataupun di lapangan. Focus Group dapat digunakan untuk meneliti dunia sosial atau berupaya mengubahnya-yaitu dalam proyek riset tindakan. 
 
Sebuah proyek focus group dapat melibatkan satu kelompok partisipan yang mengadakan pertemuan sekali, atau dapat juga melibatkan beberapa kelompok dalam satu atau beberapa kali pertemuan. Focus group dapat melibatkan dua, atau selusin partisipan (biasanya antara empat sampai delapan). Para partisipan tersebut dapat berasal dari latar belakang kelompok yang sebelumnya memang sudah ada (misalnya anggota keluarga, klub, atau tim-kerja).Dapat juga mereka dikumpulkan secara khusus dalam rangka riset, sebagai perwakilan dari suatu populasi tertentu, atau semata-mata hanya berdasarkan pada karakteristik atau pengalaman yang sama (sebagai contoh, para pria paruh-baya, asisten penjualan, atau para penderita tekanan premenstrual).
Selain seperangkat pertanyaan, moderator dapat menyajikan stimulus material pada para anggota kelompook (misalnya video-clip dan iklan). Disamping mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan tertentu, mereka dapat diminta untuk melaksanakan suatu aktivitas tertentu (misalnya memilah-milah kartu atau mengerjakan skala penilaian). Moderator dapat berlaku direktif (langsung) atau relatif non-direktif. Proses dapat direkam secara audio maupun video (secara audio lebih umum digunakan dalam riset ilmu sosial).

Jenis analisis yang digunakan tergantung pada kerangka teoritis peneliti, bukan pada ciri-ciri tertentu dari data focus group. Salah satu kekuatan dari riset focus group adalah tidak terikatnya pada suatu kerangka teoritis tertentu. Metode ini dapat dipergunakan baik dengan kerangka "esensialis" maupun "konstruksionis sosial". Riset focus group yang dilakukan dalam rangka esensialis seperti pada hampir semua riset psikologi, mendasarkan pada asumsi bahwa individu memiliki gagasan-gagasan, opini, dan pemahaman mereka sendiri secara pribadi. Tugas dari peneliti adalah mengakses atau mendapatkan "kognisi" tersebut. Dalam kerangka tersebut, keuntungan utama focus group adalah komprehensif dalam mengungkapkan gagasan-gagasan, opini, dan pemahaman individu, dibandingkan dengan ketika menggunakan wawancara satu-persatu (lebih komprehensif dalam artian bahwa para ko-partisipan dapat memicu memori, menstimulasi debat, memfasilitasi pengungkapan, dan secara umum mendorong produksi cerita yang panjang lebar).

Peneliti dapat mengamati bagaimana pandangan dibangaun, diekspresikan, dipertahankan, dan (terkadang) dimodifikasi dalam konteks diskusi dan saling berdebat.  Kerangka teoritis penelitian akan mempengaruhi analisis data yang akan diterapkan.
Focus Group Discussion merupakan pilihan tepat ketika tujuan penelitian adalah hendak mengungkap pemahaman, opini, atau pandangan orang (perlu dicatat bahwa hal demikian merupakan pertanyaan penelitian esensialis). 
Focus group juga dipakai ketika suatu penelitian hendak mengungkapkan bagaimana semua itu berkembang, dielaborasi, dan dinegosiasikan dalam suatu konteks sosial.

Setelah anda memahami tentang Focus Group Discussion sekarang kita akan beranjak kepada panduan praktis dalam melaksanakan focus group.

Untuk beberapa focus group, guna mendapatkan data dengan baik (dan untuk menghasilkan pengalaman yang bermanfaat bagi para partisipan, suatu outcome yang juga akan menghasilkan data yang lebih baik), paling tidak dibutuhkan dua hal: moderator yang efektif dan sesi yang benar-benar dipersiapkan. 
Yang perlu diperhatikan bagi moderator focus group adalah 
  • memiliki ketrampilan wawancara, 
  • pengetahuan mengenai dinamika kelompok dan 
  • pengalaman memimpin suatu diskusi kelompok. 

Selain itu moderator perlu mempunyai ketrampilan untuk mendorong orang yang malu berbicara didepan umum dan mampu mengendalikan orang yang terlalu mendominasi pembicaraan dalam kelompok diskusi.  Biasanya kesalahan yang sering dilakukan oleh moderator yang belum berpengalaman adalah kesalahan mendengarkan dan menyimak dengan benar: ketidakmampuan untuk bersabar menghadapi kesunyiaan, terlalu banyak bicara, dan menyampaikan pertanyaan yang beruntun.
Anjuran bagi moderator adalah perlu mengadakan persiapan dan latihan atau dianjurkan melakukan penelitian pendahuluan secara penuh sebagai latihan. Persiapan yang memadai dan perencanaan yang efisien sebelum melaksanakan sesi focus group tidak kalah penting untuk mendapatkan data berkualitas tinggi. Dibutuhkan sejulah besar pekerjaan persiapan sebelum, sewaktu dan setelah sesi yang bersangkutan. 
Berikut pertimbangan praktis pokok dalam penataan proyek focus group yang efektif.

Isu Desain
Pertama-tama, harus menentukan parameter umum penelitian, yaitu keseluruhan skala waktu; seberapa banyak focus group yang akan dijalankan; seperti apa jenis focus group tersebut nantinya; jumlah dan jenis partisipan yang akan dimiliki (juga bagaimana merekrutnya); dan bagaimana akan melakukan perekaman, transkripsi, dan analisis data. 

Isu Etika
Riset focus group seperti riset psikologi lainnya, harus dilaksanakan menurut panduan etika tertentu dari badan profesional terkait. Secara umum dikatakan bahwa harus ada ijin dan persyaratan etis dari institusi yang menangungi (seperti universitas atau komite etika subjek manusia). juga diperlukan ijin dari institusi tempat melakukan pengumpulan data (misalnya komite etis Health Authority atau National Health Service Trust), serta pihak-pihak lain yang terkait. Harus mendapatkan surat kesediaan untuk ikut terlibat dalam penelitian dari partisipan. Bertanggung jawab terhadap kerahasiaan mereka, dan harus mengambil langkah-langkah guna menjamin bahwa mereka tidak akan menjadi korban berbagai tekanan atau kecemasan melebihi apa yang mungkin mereka alami dalam kehidupan mereka sehari-hari.




 
Share:

0 comments:

Post a Comment

About