Wednesday, November 18, 2015

KEBENARAN ILMIAH DALAM SOSIOLOGI

Pendahuluan

  1. Pengertian Kebenaran
              Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebenaran merupakan kata benda yang berarti 1). keadaan (hal dsb.) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya; 2).  keabsahan; kecocokan (keadaan dsb.) dengan yang sesungguhnya; 3). sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada; 4). kejujuran; ketulusan hati.[1] Kata “kebenaran” menurut Abas Hamdani M.[2] dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak.  Jika subyek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proporsi yang benar. Proporsi maksudnya adalah makna yang terkandung dalam suatu peryataan atau statement. Apabila subyek menyatakan kebenaran bahwa proporsi yang diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri.
              Abas Hamdani M[3], menjelaskan bahwa kebenaran berkaitan dengan beberapa hal: Pertama, Kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya bahwa setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui  suatu obyek ditilik dari jenis pengetahuan yang dibangun.  Maksudnya apakah pengetahuan itu berupa:

  1. Pengetahuan biasa atau biasa disebut knowledge of the men in the street  atau ordinary knowledge atau common sense knowlwdge. Pengetahuan seperti ini memiliki kebenaran yang bersifat subyektif.
  2. Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah menetapkan obyek yang khas atau spesifik dengan menerapkan metodologis yang khas, artinya metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan dari antara para ahli yang sejenis. Kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan ilmiah bersifat relatif, maksudnya kandungan kebenaran dari jenis pengetahuan ilmiah selalu mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh hasil penemuan yang paling akhir.
  3. Pengetahuan filsafati, yaitu jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis dan spekulatif. Sifat kebenarannya adalah absolute-intersubyektif, maksudnya adalah nilai kebenaran yang terkandung jenis pengetahuan filsafat selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan filsafat seorang pemikir filsafat itu selalu mendapat pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula. Jika pendapat filsafat itu ditinjau dari sisi lain artinya dengan pendekatan filsafat yang lain sudah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau bahkan bertentangan  atau menghilangkan sama sekali.
  4. Kebenaran  pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis, artinya penyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan  yang telah tertentu sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahaminya itu. Implikasi makna kandungan kitab suci itu dapat berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan waktu, akan tetapi kandungan maksud ayat kitab suci itu tidak dapat diubah dan sifatnya absolut.
            Kedua, kebenaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya. Ia membangunnya dengan penginderaan, atau akal pikir, atau ratio, intuisi, atau  keyakinan. Implikasinya adalah akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan  itu akan memiliki cara tertentuuntuk membuktikannya, artinya jika seseorang membangunnya melalui indera maka pada saat ia membuktikan kebenaran pengetahuan ia harus melalui indera pula. Jenis pengetahuan menurut criteria karakteristiknya dibedakan dalam jenis pengetahuan (1) pengetahuan inderawi, (2) pengetahuan akal budi, (3) pengetahuan intuitif, (4) pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif.
              Ketiga. Kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya bagaimana relasi atau hubungan antara subyek dan obyek, manakah yang dominan  untuk membangun pengetahuan itu, subjekkah atau objek. Jika subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungnya itu amat tergantung pada subjek yang memilikipengetahuan itu. Atau jika objek amat berperan maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam.


  1. Pengertian Ilmiah

          Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata ilmiah (kata benda) diartikan:  secara ilmu pengetahuan; sesuai dengan syarat atau hukum ilmu pengetahuan.[4] Menurut Archie J. Bahm[5], masalah disebut ilmiah apabila sekurang-kurangnya  memiliki tiga ciri, yaitu dapat dikomunikasikan (communicability), dapat ditangani dengan sikap ilmiah (scientific attitude) dan dengan metode ilmiah (scientific method).

          Selanjutnya Archie J. Bahm  menjelaskan ketiga hal tersebut sebagai berikut:

  1. Masalah akan menjadi ilmiah jika dikomunikasikan.
  2. Sikap ilmiah meliputi lima ciri utama, yaitu: keingintahuan, kespekulatifan, kemauan untuk obyektif, kemauan untuk menunda keputusan, dan bersifat sementara.
  3. Metode Ilmiah. Ada lima tahap, yaitu: kesadaran akan adanya masalah, memeriksa masalah., mengusulkan penyelesaian menguji usulan dan pemecahan masalah.


  1. Kebenaran Ilmiah
    Dalam sejarah filsafat, sekurang-kurangnya ada empat teori kebenaran, yaitu a) teori kebenaran sebagai persesuaian (the correspondence theory of truth), b) teori kebenaran sebagai keteguhan (the coherence theory of truth), c) teori pragmatis tentang kebenaran (the pragmatic theory of truth), d) teori performatif tentang kebenaran (the performative theory of truth)[6].

  1. Teori kebenaran sebagai persesuaian (the correspondence theory of truth)
    Menurut teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan apa adanya. Kebenaran terletak pada kesesuaian antara  sunjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan relaitas sebagaimana adanya. Kebenaran ini juga disebut sebagai kebenaran empiris karena kebenaran suatu pernyataan, proposisi, atau teori ditentukan oleh apakah pernyataan, preposisi, atau teori itu didukung fakta atau tidak. Contoh: “Bumi Itu Bulat.” Hal-hal yang perlu dicatat sehubungan dengan teori ini adalah: Pertama, teori ini sangat ditekankan oleh aliran empirisme yang mengutamakan pengalaman dan pengamatan inderawi sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Kedua.teori ini cenderung mengaskan dualitas antara subjek dan objek, antara sipengenal dan yang dikenal. Ketiga, teori ini sangat menekankan bukti bagi kebenaran suatu pengetahuan. Bukti ini bukan pula hasil imajinasi akal budi, melainkan adalah apa yang diberikan dan disodorkan oleh objek yang dapat ditangkap oleh panca indra manusia.
  2. Teori kebenaran sebagai keteguhan (the coherence theory of truth)
    Menurut teori ini kebenaran ditentukan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada. Pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar jika sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya. Dengan kata lain penyataan benar jika penyataan itu cocok dengan sistem pemikiran yang sudah ada. Misalnya: (1) Semua manusia pasti mati. (2) Sokrates adalah manusia. (3) Sokrates pasti mati.  Kebenaran (3) hanya merupakan implikasi logis  dari system pemikiran yang sudah ada, yaitu bahwa (1) semua manusia pasti mati. Dan (2) Sokrates adalah manusia. Hal-hal yang perlu dicatat dalam teori ini adalah: Pertama, teori ini lebih menekankan kebenaran rasional-logis dan juga cara kerja deduktif. Kedua, teori ini lebih menekankan kebenaran dan pengetahuan apriori. Ini berarti pembuktian atau justifikasi sama artinya dengan validasi: memperhatikan apakah kesimpulan yang mengandung kebenaran tadi memang diperoleh secara sahih (valid) dari proposisi lain yang telah diterima sebagai benar.
  3. Teori pragmatis tentang kebenaran (the pragmatic theory of truth)
    Bagi kaum pragmatis, kebenaran sama artinya dengan kegunaan. Ide, konsep, pernyataan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Dengan kata lain, berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide benar atau tidak. Kebenaran yang ditekankan oleh kaum pragmatis ini adalah kebenaran yang menyangkut  “pengetahuan bagaimana”. Suatu ide yang benar adalah ide yang memungkinkan berhasil memperbaiki dan menciptakan sesuatu. Tolok ukur kebenaran suatu ide bukanlah realitas statis, melainkan realitas tindakan.
  4. Teori performatif tentang kebenaran (the performative theory of truth)
    Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar, kalau pernyataan itu menciptakan realitas. Pernyataan yang benar bukanlah pernyataan yang mengungkapkan realitas, tetapi justru dengan pernyataan itu tercipta suatu realitas  sebagaima yang diungkapkan dalam pernyataan itu. Contoh: “Dengan ini saya mengangkat kamu sebagi bupati Bantul.” Dengan pernyataan itu, tercipta suatu realitas baru, realitas kamu sebagai bupati Bantul.

    Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah[7]. Artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa ada prosedur baku yang harus dilaluinya. Prosedur baku yang harus dilalui itu adalah tahap-tahap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah, yang pada hakekatnya berupa teori, melalui metodologi ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. Maksudnya ialah bahwa setiap ilmu secara tegas menetapkan jenis objek yang ketat apakah objek itu berupa hal yang konkrit atau abstrak.  

Definisi Sosiologi

Untuk mengetahui apa itu sosiologi, maka kita akan definisi sosiologi menurut para ahli.

  1. Pitirim Sorokin Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
  2. Max Weber

Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.

  1. Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
  2. Paul B. Horton

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

  1. Soejono Sukamto

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

  1. Emile Durkheim

Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

Menurut kelompok sosiologi adalah ilmu yang tidak sekedar mempelajari kehidupan masyarakan baik itu tindakan. pikiran maupun perasaan, melainkan juga merupakan ilmu yang mendeskripsikan hal-hal yang berlatarbelakang kehidupan sosial kemasyarakatan.



  1. Kebenaran Ilmiah dalam Sosiologi.

Secara terminologi sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yakni kata socius dan logos. Socius berarti kawan, berkawan, ataupun bermasyarakat. Sedangkan logos berarti ilmu atau dapat juga berbicara tentang sesuatu. Secara harafiah sosiologi dapat diartikan tentang ilmu dalam masyarakat. Tetapi untuk memahami  sosiologi tidaklah sesedarhana itu, sosiologi sebagai disiplin ilmu yang mengkaji tentang masyarakat, cakupannya sangat luas. Untuk itu sosiologi dapat di definisikan  sebagai disiplin ilmu tentang interaksi sosial, kelompok sosial, gejala-gejala sosial, organisasi sosial, struktur sosial, proses sosial maupun perubahan sosial.[8]

Jika di atas telah dijelaskan tentang kebenaran-kebenaran  ilmiah dalam filsafat, lalu bagaimana dengan kebenaran ilmiah dalam sosiologi?  Untuk mencari kebenaran ilmiah dalam sosiologi dibutuhkan paradigma. Menurut Thomas Khun paradigma adalah seperangkat keyakinan yang memandu seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Sedangkan menurut Friedriches mencoba merumuskan pengertian paradigma secara lebih jelas, menurutnya paradigm adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan[9].

Sejak abad pencerahan hingga era globalosasi, terdapat empat paradigma ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan. Empat paradigma itu antara lain: 1). Positivisme, 2). Post-positivisme (Classical Paradigm atau Conventionalism Paradigm), 3). Critical Theory (Realisme), dan 4).Consructivism[10].

Perbedaan dari keempat paradigm tersebut dapat dilihat dari cara pandang masing-masing terhadap realitas yang digunakan dan cara yang ditempuh untuk melakukan pengembangan   pengetahuan, khususnya pada tiga aspek yang ada didalamnya, yakni aspek-aspek ontologis, epistemology, dan metodologis.

  1. Positivisme
    Keyakinan dasar aliran ini  berakar pada paham ontology realisme yang menyatakan bahwa realitas berada (exist) dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws). Penelitian berupaya mengungkap kebenaran realitas  yang ada dan bagaimana  senyatanya realitas tersebut senyatanya berjalan.  Tokohnya adalah Aguste Comte melalui karyanya The Course of Positive Philosophy (1830-1842), Jhon Stuart Mill  melalui karyanya A System of Logic (1843) dan  Email Durkheim melalui  karyanya, Rules of the Sociological Methods (1895), yang kemudian menjadi rujukan bagi periset ilmu social yang yang beraliran positivism.
    Menurut Durkheim, objek studi sosiologi adalah fakta sosial. Fakta sosial yang dimaksudkan mencakup bahasa, sistem hukum, sistem politik, pendidikan dan lain-lain.  Sekalipun fakta sosial berasal dari luar kesadaran individu namaun oleh periset dalam penelitian positivisme, informasi kebenaran yang kebenaran dinyatakan kepada individu yang dijadikan responden penelitian. Untuk mencapai kebenaran ini periset sebagai seorang pencari kebenaran harus menanyakan lansung kepada objek yang diteliti, dan sang objek dapat memberikan jawaban lansung kepada periset yang bersangkutan. Secara metodologis, seorang periset dituntut untuk menggunakan metodologi eksperimen empirik atau metode lain yang setara. Hal itu dimaksudkan untuk menjamin agar temuan yang diperoleh betul-betul objektif dalam menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

  2. Post-positivisme
    Post-positivisme, kemunculan paradigm ini adalah keinginan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme yang memang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan lansung atas objek yang diteliti. Secara ontology, cara pandang aliran ini bersifat critical realism, realitas sebagai hal yang memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, namun menurut aliran ini, adalah mustahil bagi manusia (peneliti) untuk melihat realitas secara benar. Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi dipandang tidak mencukupi, tetapi harus dilengkapi dengan metode triangulasi, yaitu penggunaan beragam metode, sumber data, periset dan teori. Aliran ini juga memandang bahwa secara etimologi hubungan antara periset dan objek yang diteliti tidak bisa dipisahkan. Aliran ini juga menambahkan pendapatnya bahwa suatu kebenaran tidak mungkin bisa ditangkap apabila periset berada dibelakang layar, tanpa terlibat dengan objeknya secara lansung. Aliran ini menegaskan arti penting dari hubungan interaktif antara periset dan objek yang diteliti, sepanjang dalam hubungan tersebut periset bisa bersifat netral.

  3. Teori Kritis
    Secara ontologis, cara pandangan aliran ini sama dengan pandangan post-positivisme, khususnya dalam menilai objek atau realitas kritis, yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. Pada tataran epistemologis, aliran ini memandang hubungan antara periset dan objek sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan. Lantaran berkeyakinan bahwa nilai-nilai yang dianut oleh periset ikut serta dalam menentukan kebenaran suatu hal, maka aliran ini sangat menekankan konsep subjektivitasnya dalam menemukan suatu ilmu pengetetahuan.  Secara ontologis, cara pandangan aliran ini sama dengan pandangan post-positivisme, khusunya dalam menilai objek atau realitas kritis yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. Pada tataran metodologis, aliran ini mengajukan metode dialog sebagai sarana transformasi bagi ditemukannya kebenaran realitas yang hakiki.

  4. Konstruktivisme
    Konstruktivisme, paradigma ini hampir merupakan antithesisme terhadap paham yang menempatkan pentingnya pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atas ilmu pengetahuan. Secara tegas paham ini menyatakan bahwa positivism dan post-posotivisme keliru dalam mengungkapkan realitas dunia, dan harus ditinggalkan dan digantikan oleh paham yang besifat konstruktif. Secara ontologis, aliran ini menyatakan bahwa realitas itu ada dalam beragam bentuk konstruksi mental yang didasarkan pada pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik serta tergantung pada pihak yang melakukannya. Karena itu, realitas yang diamati oleh sesorang tidak bisa digeneralisasikan kepada semua orang sebagaimana yang biasa dilakukan di kalangan positivism atau post-positivis. Atas dasar filosofi ini aliran ini menyatakan bahwa hubungan epistemology antara pengamat dan objek merupakan satu kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan interaksi diantarakeduanya. Secara metodologis, aliran ini menerapkan metode hermeneutika dan dialektika dalam proses mencapai kebenaran. Metode pertama dilakukan melalui identifikasi kebenaran atau konstruksi pendapat orang per orang, sedangkan metode kedua mencoba untuk membandingkan dan menyilangkan pendapat orang per orang yang diperoleh oleh metode pertama.

            Dari paparan diatas, maka timbul pertanyaan: paradigma manakah yang dianggap paling baik? Tidak satupun paradigma yang sanggup mengungguli yang lain, mengingat setiap paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap realitas yang tergantung pada keadaan tertentu. Dalam ilmu eksata, paham positivism dan post-positivisme mungkin banyak digunakan, sedangkan di ilmu sosial, ciritcal theory atau konstruktivisme mendapat tempat yang lebih mapan.





  1. Kesimpulan

  • Untuk memahami kebenaran ilmiah dalam pengetahuan yang  jelas dari satu objek formal atau cara pandang tertentu dengan metode yang sesuai dan ditunjang oleh suatu sistem yang relevan. Masing-masing teori kebenaran ini mempunyai sifat dasar metodologisnya sendiri, dan satu teori kebenaran tidak bisa dipakai untuk menilai kebenaran yang lain dengan metode yang sama. Karena itu muncul beragam teori kebenaran, ada yang sepakat mengakui empat teori kebenaran (teori kebenaran sebagai peresesuain, teori kebenaran sebagai keteguhan, teori pragmatis tentang kebenarana, teori performatif tentang kebenaran).
  • Masing-masing teori kebenaran mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun secara epistemologi maupun ontologis, tampaknya teori-teori ini dapat mencari jalan keluar dari persoalan yang muncul dari realitas itu sendiri. Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan mempunyai aspek etis.
  • Sosiologi dapat dikatakan  mengandung kebenaran ilmiah karena merupakan ilmu yang bersifat empirik.  
  • Kebenaran ilmiah dalam sosiologi disesuaikan dengan waktu dan ruang (konteks).


  1. Kebenaran ilmiah dalam sosiologi disesuaikan (konteks).









     Daftar Pustaka:


Bahm, Archie J. 1980 “What is Science” dalam Axiology: The Science of Values,New Mexico: Word Books Albuquerque.

Keraf, A. Sonny dan Dua, Mikhael, 2011, Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosifis, Yogyakarta: Kanisius.

Salim, Agus, 2001, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Supardan, Dadang, 2008, Pengantar Ilmu Sosial, Sebuah Kajian Pendekatan Struktural, Jakarta: Bumi Aksara.

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM,2010, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan.  Yogyakarta: Liberty.

----------, 2008, Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.



Supardan, H. Dadang. Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.





                [1] Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. [2008], 172
                [2] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Liberty, 2010),  135.
                [3] Ibid, 136-137
                [4] Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. [2008], 544
                [5]Archie J. Bahm. “What is Science” dalam Axiology: The Science of Values (New Mexico: Word Books Albuquerque, 1980), 14-49
                [6] A. Sonny Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosifis, (Yogyakarta: Kanisius, 2011),  65-74
                [7] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan, 144
                [8] Dadang Supardan, Pengantar Ilmu Sosial, Sebuah Kajian Pendekatan Struktural, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008),hlm 70
                [9] Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001),  63
                [10] Ibid  68-73
Share:

0 comments:

Post a Comment

About