Sunday, November 29, 2015

Situs download ebook Lengkap

Postingan kali ini saya ingin berbagi kepada teman-teman semua, situs ebook yang lengkap dan gratis. Situs ini memang dari luar negeri oleh karena itu ebooknya berbahasa Inggris. Bagi teman-teman yang sedang menimba ilmu diperguruan tinggi, situs-situs dibawah ini bias menolong anda semua. Namun mohon maaf kalau sampai postingan ini saya sebar luaskan, ada situs-situs dibawah ini yang sudah dihapus oleh Google atau bias juga karena permintaan para penulis ebook yang rata-rata masih dipakai menjadi pegangan dosen dan mahasiswa diasalnya, juga karena masih dipajang juga di took buku konvensional dan toko online seperti Amazon.

en.bookfi.org


Situs unduhan dari negeri Beruang Merah ini cukup lengkap, dengan 2.220.696 buku per 7 Desember 2013. Halaman mukanya berbahasa Rusia, namun Anda dapat mengganti bahasa pengantarnya di sudut kanan atas. Situs ini tersedia dalam tiga bahasa, yaitu Rusia, Inggris, dan Ukraina.

Libgen.info (Library Genesis)
Kabar terbaru, alamat situs ini telah dipindahkan ke lib.freescienceengineering.org, dan apabila Anda mengetikkan alamat libgen.info di adress bar, maka akan ter-redirect ke situs ini. Berikut saya contohkan pencarian buku Gun, Germs, and Steel karya Jared Diamond menggunakan libgen.




Share:

Wednesday, November 18, 2015

KEBENARAN ILMIAH DALAM SOSIOLOGI

Pendahuluan

  1. Pengertian Kebenaran
              Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebenaran merupakan kata benda yang berarti 1). keadaan (hal dsb.) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya; 2).  keabsahan; kecocokan (keadaan dsb.) dengan yang sesungguhnya; 3). sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada; 4). kejujuran; ketulusan hati.[1] Kata “kebenaran” menurut Abas Hamdani M.[2] dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak.  Jika subyek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proporsi yang benar. Proporsi maksudnya adalah makna yang terkandung dalam suatu peryataan atau statement. Apabila subyek menyatakan kebenaran bahwa proporsi yang diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri.
              Abas Hamdani M[3], menjelaskan bahwa kebenaran berkaitan dengan beberapa hal: Pertama, Kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya bahwa setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui  suatu obyek ditilik dari jenis pengetahuan yang dibangun.  Maksudnya apakah pengetahuan itu berupa:

  1. Pengetahuan biasa atau biasa disebut knowledge of the men in the street  atau ordinary knowledge atau common sense knowlwdge. Pengetahuan seperti ini memiliki kebenaran yang bersifat subyektif.
  2. Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah menetapkan obyek yang khas atau spesifik dengan menerapkan metodologis yang khas, artinya metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan dari antara para ahli yang sejenis. Kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan ilmiah bersifat relatif, maksudnya kandungan kebenaran dari jenis pengetahuan ilmiah selalu mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh hasil penemuan yang paling akhir.
  3. Pengetahuan filsafati, yaitu jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis dan spekulatif. Sifat kebenarannya adalah absolute-intersubyektif, maksudnya adalah nilai kebenaran yang terkandung jenis pengetahuan filsafat selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan filsafat seorang pemikir filsafat itu selalu mendapat pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula. Jika pendapat filsafat itu ditinjau dari sisi lain artinya dengan pendekatan filsafat yang lain sudah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau bahkan bertentangan  atau menghilangkan sama sekali.
  4. Kebenaran  pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis, artinya penyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan  yang telah tertentu sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahaminya itu. Implikasi makna kandungan kitab suci itu dapat berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan waktu, akan tetapi kandungan maksud ayat kitab suci itu tidak dapat diubah dan sifatnya absolut.
            Kedua, kebenaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya. Ia membangunnya dengan penginderaan, atau akal pikir, atau ratio, intuisi, atau  keyakinan. Implikasinya adalah akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan  itu akan memiliki cara tertentuuntuk membuktikannya, artinya jika seseorang membangunnya melalui indera maka pada saat ia membuktikan kebenaran pengetahuan ia harus melalui indera pula. Jenis pengetahuan menurut criteria karakteristiknya dibedakan dalam jenis pengetahuan (1) pengetahuan inderawi, (2) pengetahuan akal budi, (3) pengetahuan intuitif, (4) pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif.
              Ketiga. Kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya bagaimana relasi atau hubungan antara subyek dan obyek, manakah yang dominan  untuk membangun pengetahuan itu, subjekkah atau objek. Jika subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungnya itu amat tergantung pada subjek yang memilikipengetahuan itu. Atau jika objek amat berperan maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam.


  1. Pengertian Ilmiah

          Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata ilmiah (kata benda) diartikan:  secara ilmu pengetahuan; sesuai dengan syarat atau hukum ilmu pengetahuan.[4] Menurut Archie J. Bahm[5], masalah disebut ilmiah apabila sekurang-kurangnya  memiliki tiga ciri, yaitu dapat dikomunikasikan (communicability), dapat ditangani dengan sikap ilmiah (scientific attitude) dan dengan metode ilmiah (scientific method).

          Selanjutnya Archie J. Bahm  menjelaskan ketiga hal tersebut sebagai berikut:

  1. Masalah akan menjadi ilmiah jika dikomunikasikan.
  2. Sikap ilmiah meliputi lima ciri utama, yaitu: keingintahuan, kespekulatifan, kemauan untuk obyektif, kemauan untuk menunda keputusan, dan bersifat sementara.
  3. Metode Ilmiah. Ada lima tahap, yaitu: kesadaran akan adanya masalah, memeriksa masalah., mengusulkan penyelesaian menguji usulan dan pemecahan masalah.


  1. Kebenaran Ilmiah
    Dalam sejarah filsafat, sekurang-kurangnya ada empat teori kebenaran, yaitu a) teori kebenaran sebagai persesuaian (the correspondence theory of truth), b) teori kebenaran sebagai keteguhan (the coherence theory of truth), c) teori pragmatis tentang kebenaran (the pragmatic theory of truth), d) teori performatif tentang kebenaran (the performative theory of truth)[6].

  1. Teori kebenaran sebagai persesuaian (the correspondence theory of truth)
    Menurut teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan apa adanya. Kebenaran terletak pada kesesuaian antara  sunjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan relaitas sebagaimana adanya. Kebenaran ini juga disebut sebagai kebenaran empiris karena kebenaran suatu pernyataan, proposisi, atau teori ditentukan oleh apakah pernyataan, preposisi, atau teori itu didukung fakta atau tidak. Contoh: “Bumi Itu Bulat.” Hal-hal yang perlu dicatat sehubungan dengan teori ini adalah: Pertama, teori ini sangat ditekankan oleh aliran empirisme yang mengutamakan pengalaman dan pengamatan inderawi sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Kedua.teori ini cenderung mengaskan dualitas antara subjek dan objek, antara sipengenal dan yang dikenal. Ketiga, teori ini sangat menekankan bukti bagi kebenaran suatu pengetahuan. Bukti ini bukan pula hasil imajinasi akal budi, melainkan adalah apa yang diberikan dan disodorkan oleh objek yang dapat ditangkap oleh panca indra manusia.
  2. Teori kebenaran sebagai keteguhan (the coherence theory of truth)
    Menurut teori ini kebenaran ditentukan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada. Pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar jika sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya. Dengan kata lain penyataan benar jika penyataan itu cocok dengan sistem pemikiran yang sudah ada. Misalnya: (1) Semua manusia pasti mati. (2) Sokrates adalah manusia. (3) Sokrates pasti mati.  Kebenaran (3) hanya merupakan implikasi logis  dari system pemikiran yang sudah ada, yaitu bahwa (1) semua manusia pasti mati. Dan (2) Sokrates adalah manusia. Hal-hal yang perlu dicatat dalam teori ini adalah: Pertama, teori ini lebih menekankan kebenaran rasional-logis dan juga cara kerja deduktif. Kedua, teori ini lebih menekankan kebenaran dan pengetahuan apriori. Ini berarti pembuktian atau justifikasi sama artinya dengan validasi: memperhatikan apakah kesimpulan yang mengandung kebenaran tadi memang diperoleh secara sahih (valid) dari proposisi lain yang telah diterima sebagai benar.
  3. Teori pragmatis tentang kebenaran (the pragmatic theory of truth)
    Bagi kaum pragmatis, kebenaran sama artinya dengan kegunaan. Ide, konsep, pernyataan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Dengan kata lain, berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide benar atau tidak. Kebenaran yang ditekankan oleh kaum pragmatis ini adalah kebenaran yang menyangkut  “pengetahuan bagaimana”. Suatu ide yang benar adalah ide yang memungkinkan berhasil memperbaiki dan menciptakan sesuatu. Tolok ukur kebenaran suatu ide bukanlah realitas statis, melainkan realitas tindakan.
  4. Teori performatif tentang kebenaran (the performative theory of truth)
    Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar, kalau pernyataan itu menciptakan realitas. Pernyataan yang benar bukanlah pernyataan yang mengungkapkan realitas, tetapi justru dengan pernyataan itu tercipta suatu realitas  sebagaima yang diungkapkan dalam pernyataan itu. Contoh: “Dengan ini saya mengangkat kamu sebagi bupati Bantul.” Dengan pernyataan itu, tercipta suatu realitas baru, realitas kamu sebagai bupati Bantul.

    Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah[7]. Artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa ada prosedur baku yang harus dilaluinya. Prosedur baku yang harus dilalui itu adalah tahap-tahap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah, yang pada hakekatnya berupa teori, melalui metodologi ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. Maksudnya ialah bahwa setiap ilmu secara tegas menetapkan jenis objek yang ketat apakah objek itu berupa hal yang konkrit atau abstrak.  

Definisi Sosiologi

Untuk mengetahui apa itu sosiologi, maka kita akan definisi sosiologi menurut para ahli.

  1. Pitirim Sorokin Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
  2. Max Weber

Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.

  1. Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
  2. Paul B. Horton

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

  1. Soejono Sukamto

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

  1. Emile Durkheim

Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

Menurut kelompok sosiologi adalah ilmu yang tidak sekedar mempelajari kehidupan masyarakan baik itu tindakan. pikiran maupun perasaan, melainkan juga merupakan ilmu yang mendeskripsikan hal-hal yang berlatarbelakang kehidupan sosial kemasyarakatan.



  1. Kebenaran Ilmiah dalam Sosiologi.

Secara terminologi sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yakni kata socius dan logos. Socius berarti kawan, berkawan, ataupun bermasyarakat. Sedangkan logos berarti ilmu atau dapat juga berbicara tentang sesuatu. Secara harafiah sosiologi dapat diartikan tentang ilmu dalam masyarakat. Tetapi untuk memahami  sosiologi tidaklah sesedarhana itu, sosiologi sebagai disiplin ilmu yang mengkaji tentang masyarakat, cakupannya sangat luas. Untuk itu sosiologi dapat di definisikan  sebagai disiplin ilmu tentang interaksi sosial, kelompok sosial, gejala-gejala sosial, organisasi sosial, struktur sosial, proses sosial maupun perubahan sosial.[8]

Jika di atas telah dijelaskan tentang kebenaran-kebenaran  ilmiah dalam filsafat, lalu bagaimana dengan kebenaran ilmiah dalam sosiologi?  Untuk mencari kebenaran ilmiah dalam sosiologi dibutuhkan paradigma. Menurut Thomas Khun paradigma adalah seperangkat keyakinan yang memandu seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Sedangkan menurut Friedriches mencoba merumuskan pengertian paradigma secara lebih jelas, menurutnya paradigm adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan[9].

Sejak abad pencerahan hingga era globalosasi, terdapat empat paradigma ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan. Empat paradigma itu antara lain: 1). Positivisme, 2). Post-positivisme (Classical Paradigm atau Conventionalism Paradigm), 3). Critical Theory (Realisme), dan 4).Consructivism[10].

Perbedaan dari keempat paradigm tersebut dapat dilihat dari cara pandang masing-masing terhadap realitas yang digunakan dan cara yang ditempuh untuk melakukan pengembangan   pengetahuan, khususnya pada tiga aspek yang ada didalamnya, yakni aspek-aspek ontologis, epistemology, dan metodologis.

  1. Positivisme
    Keyakinan dasar aliran ini  berakar pada paham ontology realisme yang menyatakan bahwa realitas berada (exist) dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws). Penelitian berupaya mengungkap kebenaran realitas  yang ada dan bagaimana  senyatanya realitas tersebut senyatanya berjalan.  Tokohnya adalah Aguste Comte melalui karyanya The Course of Positive Philosophy (1830-1842), Jhon Stuart Mill  melalui karyanya A System of Logic (1843) dan  Email Durkheim melalui  karyanya, Rules of the Sociological Methods (1895), yang kemudian menjadi rujukan bagi periset ilmu social yang yang beraliran positivism.
    Menurut Durkheim, objek studi sosiologi adalah fakta sosial. Fakta sosial yang dimaksudkan mencakup bahasa, sistem hukum, sistem politik, pendidikan dan lain-lain.  Sekalipun fakta sosial berasal dari luar kesadaran individu namaun oleh periset dalam penelitian positivisme, informasi kebenaran yang kebenaran dinyatakan kepada individu yang dijadikan responden penelitian. Untuk mencapai kebenaran ini periset sebagai seorang pencari kebenaran harus menanyakan lansung kepada objek yang diteliti, dan sang objek dapat memberikan jawaban lansung kepada periset yang bersangkutan. Secara metodologis, seorang periset dituntut untuk menggunakan metodologi eksperimen empirik atau metode lain yang setara. Hal itu dimaksudkan untuk menjamin agar temuan yang diperoleh betul-betul objektif dalam menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

  2. Post-positivisme
    Post-positivisme, kemunculan paradigm ini adalah keinginan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme yang memang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan lansung atas objek yang diteliti. Secara ontology, cara pandang aliran ini bersifat critical realism, realitas sebagai hal yang memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, namun menurut aliran ini, adalah mustahil bagi manusia (peneliti) untuk melihat realitas secara benar. Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi dipandang tidak mencukupi, tetapi harus dilengkapi dengan metode triangulasi, yaitu penggunaan beragam metode, sumber data, periset dan teori. Aliran ini juga memandang bahwa secara etimologi hubungan antara periset dan objek yang diteliti tidak bisa dipisahkan. Aliran ini juga menambahkan pendapatnya bahwa suatu kebenaran tidak mungkin bisa ditangkap apabila periset berada dibelakang layar, tanpa terlibat dengan objeknya secara lansung. Aliran ini menegaskan arti penting dari hubungan interaktif antara periset dan objek yang diteliti, sepanjang dalam hubungan tersebut periset bisa bersifat netral.

  3. Teori Kritis
    Secara ontologis, cara pandangan aliran ini sama dengan pandangan post-positivisme, khususnya dalam menilai objek atau realitas kritis, yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. Pada tataran epistemologis, aliran ini memandang hubungan antara periset dan objek sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan. Lantaran berkeyakinan bahwa nilai-nilai yang dianut oleh periset ikut serta dalam menentukan kebenaran suatu hal, maka aliran ini sangat menekankan konsep subjektivitasnya dalam menemukan suatu ilmu pengetetahuan.  Secara ontologis, cara pandangan aliran ini sama dengan pandangan post-positivisme, khusunya dalam menilai objek atau realitas kritis yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. Pada tataran metodologis, aliran ini mengajukan metode dialog sebagai sarana transformasi bagi ditemukannya kebenaran realitas yang hakiki.

  4. Konstruktivisme
    Konstruktivisme, paradigma ini hampir merupakan antithesisme terhadap paham yang menempatkan pentingnya pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atas ilmu pengetahuan. Secara tegas paham ini menyatakan bahwa positivism dan post-posotivisme keliru dalam mengungkapkan realitas dunia, dan harus ditinggalkan dan digantikan oleh paham yang besifat konstruktif. Secara ontologis, aliran ini menyatakan bahwa realitas itu ada dalam beragam bentuk konstruksi mental yang didasarkan pada pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik serta tergantung pada pihak yang melakukannya. Karena itu, realitas yang diamati oleh sesorang tidak bisa digeneralisasikan kepada semua orang sebagaimana yang biasa dilakukan di kalangan positivism atau post-positivis. Atas dasar filosofi ini aliran ini menyatakan bahwa hubungan epistemology antara pengamat dan objek merupakan satu kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan interaksi diantarakeduanya. Secara metodologis, aliran ini menerapkan metode hermeneutika dan dialektika dalam proses mencapai kebenaran. Metode pertama dilakukan melalui identifikasi kebenaran atau konstruksi pendapat orang per orang, sedangkan metode kedua mencoba untuk membandingkan dan menyilangkan pendapat orang per orang yang diperoleh oleh metode pertama.

            Dari paparan diatas, maka timbul pertanyaan: paradigma manakah yang dianggap paling baik? Tidak satupun paradigma yang sanggup mengungguli yang lain, mengingat setiap paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap realitas yang tergantung pada keadaan tertentu. Dalam ilmu eksata, paham positivism dan post-positivisme mungkin banyak digunakan, sedangkan di ilmu sosial, ciritcal theory atau konstruktivisme mendapat tempat yang lebih mapan.





  1. Kesimpulan

  • Untuk memahami kebenaran ilmiah dalam pengetahuan yang  jelas dari satu objek formal atau cara pandang tertentu dengan metode yang sesuai dan ditunjang oleh suatu sistem yang relevan. Masing-masing teori kebenaran ini mempunyai sifat dasar metodologisnya sendiri, dan satu teori kebenaran tidak bisa dipakai untuk menilai kebenaran yang lain dengan metode yang sama. Karena itu muncul beragam teori kebenaran, ada yang sepakat mengakui empat teori kebenaran (teori kebenaran sebagai peresesuain, teori kebenaran sebagai keteguhan, teori pragmatis tentang kebenarana, teori performatif tentang kebenaran).
  • Masing-masing teori kebenaran mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun secara epistemologi maupun ontologis, tampaknya teori-teori ini dapat mencari jalan keluar dari persoalan yang muncul dari realitas itu sendiri. Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan mempunyai aspek etis.
  • Sosiologi dapat dikatakan  mengandung kebenaran ilmiah karena merupakan ilmu yang bersifat empirik.  
  • Kebenaran ilmiah dalam sosiologi disesuaikan dengan waktu dan ruang (konteks).


  1. Kebenaran ilmiah dalam sosiologi disesuaikan (konteks).









     Daftar Pustaka:


Bahm, Archie J. 1980 “What is Science” dalam Axiology: The Science of Values,New Mexico: Word Books Albuquerque.

Keraf, A. Sonny dan Dua, Mikhael, 2011, Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosifis, Yogyakarta: Kanisius.

Salim, Agus, 2001, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Supardan, Dadang, 2008, Pengantar Ilmu Sosial, Sebuah Kajian Pendekatan Struktural, Jakarta: Bumi Aksara.

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM,2010, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan.  Yogyakarta: Liberty.

----------, 2008, Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.



Supardan, H. Dadang. Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.





                [1] Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. [2008], 172
                [2] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Liberty, 2010),  135.
                [3] Ibid, 136-137
                [4] Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. [2008], 544
                [5]Archie J. Bahm. “What is Science” dalam Axiology: The Science of Values (New Mexico: Word Books Albuquerque, 1980), 14-49
                [6] A. Sonny Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosifis, (Yogyakarta: Kanisius, 2011),  65-74
                [7] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan, 144
                [8] Dadang Supardan, Pengantar Ilmu Sosial, Sebuah Kajian Pendekatan Struktural, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008),hlm 70
                [9] Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001),  63
                [10] Ibid  68-73
Share:

Saturday, October 10, 2015

JEAN PIAGET

Sepanjang sejarah teori tentang perkembangan intelektual, teori yang telah dikembangkan oleh Jean Piaget (1896-1980) merupakan teori yang paling komprehensif dan banyak mendekati kebenaran.
Piaget lahir di Neuchatel, sebuah kota universitas kecil di Swiss, dimana ayahnya adalah sejarawan abad pertengahan di universitas tersebut. Piaget (1952), melukiskan ayahnya sebagai pemikir yang cermat dan sistematis. Ibunya, sebaliknya, sangat emosional, sehingga tingkah lakunya sering menciptakan ketegangan di dalam keluarga. Piaget meneruskan cara-cara belajar sang ayah dan menemukan tempat pelarian paling tepat dari konflik keluarga dengan menyendiri di dalam penelitian.
Sejak kecil, Piaget menunjukkan kemampuan sebagai ilmuwan yang sangat menjanjikan di masa depan. Pada usia 10 tahun, dia menerbiatkan sebuah artikel tentang burung albino yang dilihatnya di taman. Ketika masih bersekolah di SMTU, penelitiannya tentang kerang (moluska) membawanya berkenalan dengan para kolega dari luar negeri dan sebuah tawaran kerja sebagai kurator sebuah museum yang kemudian dibatalkan mengingat usianya belum cukup.

Pada usia 15 tahun Piaget mengalami krisis intelektual yang membuatnya sadar bahwa keyakinan agama dan filosofisnya kekuarangan fondasi ilmiah. Hal ini membuatnya mencari cara untuk mengawinkan filsafat dengan sains.
Share:

SEJARAH SOSIOLOGI


Saint-Simon (1760-1825)
Ia prihatin atas kondisi masyarakat akibat revolusi Perancis. Menurut Saint Simon  ...all the existing relations between the members of a nation became precarious, and anarchy...; (Society) in a state of extreme moral disorder, egoism is making terrible progress...” Dalam kondisi ini agama dan feudalisme kehilangan daya rekat sosialnya.  Menurut dia daya rekat sosial yang baru terletak dalam industri; industri adalah” “every kind of useful activity, theoretical as well as manual”. Baginya manusia adalah a productive animal. Di pembaringan menanti ajalnya, ia berkata: “The essence of my life’s work is to afford all members of society the greatest possible opportunity for the development of their faculties”. Dan tentang dia Durkheim berkomentar: a new conception of (the laws of social life) appeared...he was the first to offer the formula for it, to declare that societies are realities, original...and different from those which are to be found elsewhere in nature, but subject to the same determinism”.

Aguste Comte (1798-1857)
Comte dikenal sebagai pendiri ilmu sosiologi yang awalnya  Comte sebut fisika sosial, dan kemudian disebut sosiologi.  Menurut G. Simpson (dalam Origins and Growth of Sociological Theory), sumbangan Comte yang utama: 
  1. Meletakkan dasar keilmuan sosiologi yaitu positifisme.
  2. Membuat klasifikasi ilmu-ilmu dan perkembangannya yang saling bergantung satu kepada yang lain.
  3. Hukum Evolusi Tiga Tahap  (theologi, metaphysica, positivism).
  4. Sosiologi Ilmu Pengetahuan.
  5. Sosiologi Pengetahuan.
  6. Organisme sosial, sistem sosial,  struktur sosial, dan dinamika sosial.
  7. Sosiologi sebagai studi perbandingan sejarah.
  8. Psikologi dan Sosiologi.
  9. Metode penelitian sosiologis: observasi, eksperimen, perbandingan.
  10. Agama Kemanusiaan.
Comte menggunakan organisme sebagai gambaran untuk menjelaskan  masyarakat yang dibentuk oleh bagian-bagiannya yang fungsional dan saling berhubungan.
Menurut Comte sosiologi adalah studi yang bersifat dinamis dalam arti temuannya akan mengubah kondisi manusia di dalam masyarakat dan studi tentang bagaimana perubahan sosial yang diperlukan itu berlangsung dalam hubungan  dengan struktur dan fungsi sosial yang sudah tidak berdaya dan karena itu  harus diatur dan disusun kembali.

Karl Marx (1818-1883)
Masyarakat industri-kapitalis dan kerja sebagai wujud hakekat manusia menjadi fokus kajian Marx. Bagi Marx ekonomi menjadi faktor utama penyebab perubahan sosial.  ...the social history of men is never anything but the history of their individual development...their material relations are the basis of all their relations”, demikian tulis Marx dalam Society and Economy in History. Dengan menggunakan teori dialektika Hegel dipadu dengan materialisme Feuerbach, dibentuklah teori evolusi dialektis sosial dari masyarakat berkelas sosial (adanya eksploitasi dan alienasi) ke masyarakat tanpa kelas sosial (bebas eksploitasi dan alienasi).

Bagi Marx tidak mungkin mengambil sikap tidak berpihak dalam menganalisis masyarakat kapitalis. Nilai-nilai personal dari orang yang menganalisis secara perlu tidak bisa dipisahkan dari studi terhadap fakta-fakta sosial.
Kesadaran manusia adalah produk sosial. Sejak awalnya kesadaran tidak pernah “bersih” karena kita sadar dalam bahasa dan mengkomunikasikannya dalam bahasa. Bahkan kesadaran kita tentang sesuatu dapat berbeda dengan sesuatu itu senyatanya.

Emile Durkheim (1858-1917)
Dua tema utama sosiologi Durkheim, ialah: pengutamaan masyarakat daripada individu dan ide bahwa sosiologi dapat dipelajari secara ilmiah sebagaimana tuntutan positifisme-empirisme.
Menurut Durkheim adanya tatanan sosial karena adanya daya rekat sosial (solidaritas sosial). Secara ilmiah, obyek studi sosiologi dapat diobserfasi sebagaimana ilmu kealaman. Obyek obserfasi sosiologi oleh Durkheim disebut fakta-fakta sosial yang terdiri atas dua jenis, yaitu material dan non material.  Yang paling penting bagi Durkheim ialah fakta sosial non material yang meliputi, antara lain: moralitas, kesadaran kolektif, dan representasi kolektif.
Fakta sosial harus diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang ada secara nyata di luar individu dan tidak bergantung pada media konseptual  pengamat.

Georg Simmel (1858-1918)
Simmel adalah teman sekerja Weber. Perhatian Simmel ditujukan pada bentuk dan aktor dalam relasi-interaksi individu di dalam kelompok sosialnya (asosiasi). Sejalan dengan itu, masyarakat hanyalah nama bagi sejumlah individu yang dihubungkan oleh interaksi. Namun demikian, masyarakat melampaui individu dan menjalani hidupnya sendiri  dengan hukumnya sendiri pula. Tuntutan masyarakat bersifat imperatif terhadap individu.
Ada tiga wilayah masalah sosiologi: (1) sosiologi murni menyangkut bentuk relasi-interaksi dan tipe orang yang terlibat di dalamnya, (2) sosiologi umum yang membahas produk sosial dan kultural sejarah manusia, (3) sosiologi filosofis, yang intinya ialah pemisahan antara orang dengan produknya terdapat dalam hakikat kehidupan manusia itu sendiri, terdapat kontradiksi inheren dan tak terelakkan antara daya cipta kehidupan dan hasil kreasi kehidupan.
Ia menggunakan pendekatan dialektis untuk menjelaskan perkembangan relasi-interaksi individu di dalam kelompoknya. Selain itu, ia menggunakan geometri (jumlah dan jarak) untuk menjelaskan kualitas relasi-interaksi itu (dyad dan triad).


Max Weber (1864-1920)
Weber menghadapi berbagai kondisi sosial, konflik kelas sosial, pemerintahan yang kursif, industri dan ekonomi yang mendominasi kehidupan masyarakat, di samping itu Weber tertarik pula pada persoalan spiritual yang ikut mendorong perilaku seseorang. Hal-hal ini yang mendorong Weber mengadakan studi sejarah peradaban berbagai masyarakat dan studi terhadap berbagai agama sebagai sumber data untuk mengembangkan pengetahuan sosiologi.
“...there takes place a phenomenon of incomparable significance: the replacement of personal relationships of dominance by the impersonal dominance of class...The ethical order of religious bonds can no longer have any effect, for the “personal relationship of responsibility” has disappeared. What has replaced it is the “objective hatred” of one class for another”.
Demikian ungkap Weber dalam tulisannya (dalam Jeffrey C. Alexander, 1983)
Sosiologi menurut Weber adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami atau mengerti (verstehen) tindakan sosial melalui interpretasi untuk tiba pada penjelasan tentang penyebab dan akibatnya.
Bagi Weber verstehen adalah metode yang cocok untuk memperoleh pengetahuan keilmuan dalam sosiologi.
Dalam penelitiannya, Weber menemukan bahwa rasionalisasi dan Protestantisme-Calvinis menjadi penyebab utama lahirnya masyarat kapitalisme.

DARI EROPA KE AMERIKA SERIKAT
Latar Belakang
-          Para sosiolog awal AS menganut politik Liberal dengan dua elemen: (1) Keyakinan akan kebebasan dan kemakmuran individu. (2) Evolusi sosial.
-          Urbanisasi dan industrialisasi yang sedang berkembang di AS.
-          Pengaruh teori sosiologi Eropa.
-          Sesudah PD II, yang menjadi pertanyaan utama para ilmuan AS, adalah: Ilmu Pengetahuan untuk apa?
-          Pengaruh pendekatan positifisme (epistemologi).
-          Pengaruh Filsafat Pragmatisme dan Utilitarianisme.
Oleh karena  banyak sosiolog dan aliran sosiologi yang berkembang  di AS (fungsionalisme struktural, neo fungsionalism, konflik, interaksi simbolisme, femenisme, jaringan sosial, pilihan rasional, neo positifisme, neo Marxian) maka saya memilih tiga sosiolog yang sangat berpengaruh, yaitu Talcot Parsons (fungsionalisme struktural),  George Herbert Mead (interaksionisme simbolis), Ralf Dahrendorf (konflik)

Talcot Parsons (1902-1978)
Secara umum perhatian utama   fungsionalisme struktural ialah struktur sosial skala besar dan institusi masyarakat dalam kesaling-terkaitannya dan efek hambatannya terhadap aktor.
Bagi Parsons, masyarakat adalah keutuhan yang sistemik-fungsional. Fokus utama teorinya adalah: struktur tindakan sosial. Ia mendefinisikan sistem sosial sbb.: “Sistem sosial terdiri dari beragam aktor individual yang berinteraksi satu sama lain dalam situasi yang setidaknya memiliki aspek fisik atau lingkungan, aktor yang cenderung termotivasi ke arah “optimalisasi kepuasan” dan yang hubungannya dengan situasi mereka, termasuk hubungan satu sama lain,  didefinisikan dan diperantarai dalam bentuk sistem simbol yang terstruktur secara kultural  dan yag dimiliki bersama”.
Definisi ini memuat konsep-konsep utama sistem sosial Parsons: aktor, interaksi, lingkungan, optimalisasi kepuasan, dan kebudayaan.
Parsons menempatkan status-peran sebagai unit terdasar dari sistem sosial. Status merujuk pada posisi struktural dalam sistem sosial; peran adalah apa yang dilakukan aktor dalam suatu posisi, yang dilihat signifikansi fungsionalnya bagi sistem yang lebih besar. Parsons membedakan empat subsistem dalam masyarakat: ekonomi (kerja, produksi, alokasi), politik  (mobilisasi aktor dan sumber daya untuk mencapai tujuan), pengasuhan (internalisasi budaya), komunitas (integrasi sosial).

George Herbert Mead (1863=1931)
Prinsip-prinsip  umum interaksionisme simbolis:  manusia adalah makhluk yang memiliki daya pikir. Daya pikir dikembangkan dalam interaksi sosial. Dalam interaksi sosial orang mempelajari makna dan simbol yang memungkinkannya menggunakan daya pikirnya. Makna dan simbol memungkinkan orang melakukan tindakan dan interaksi khas manusia dan orang mampu memodifikasi makna dan simbol sesuai kebutuhan interaksinya.
Masyarakat menurut Mead adalah proses sosial terus-menerus, yang mendahului pikiran dan diri. Individu membawa serta masyarakat, memberinya kemampuan, melalui kritik diri, untuk mengontrol diri sendiri.
Pendidikan adalah proses internalisasi kebiasaan umum komunitas (institusi) pada diri aktor.
Proses internalisasi ini tidak boleh menindas daya kreatif individu. Institusi  mengekang dan sekaligus mendorong individu menjadi individu kreatif.

Ralf Dahrendorf (1929-2009)
Para teoretisi konflik beorientasi pada pembahasan struktur dan institusi sosial. Bagi para teoretisi fungsionalisme struktural, masyarakat dipahami sebagai sesuatu yang statis atau paling-paling keseimbangan yang dinamis, dan keteraturan. Bagi Dahrendorf dan para teoretisi konflik melihat pertentangan dan konflik dalam setiap sistem sosial; banyak elemen masyarakat yang justru berperan dalam lahirnya disintegrasi dan perubahan sosial.
Menurut Dahrendorf setiap masyarakat memiliki dua wajah (konflik dan konsensus), karena itu teori sosiologi harus dibagi ke dalam dua bagian, teori konflik dan teori konsensus.
Dahredorf memusatkan perhatiannya pada struktur sosial skala besar. Dan menurut dia berbagai posisi dalam masyarakat memiliki otoritas yang berlainan. Otoritas tidak bersifat konstan karena melekat pada posisi bukan pada orang. Setiap asosiasi mempunyai dua kelompok, superordinat dan subordinat, yang memiliki kepentingan bersama. Yang berada pada superordinat berusaha mempertahankan status quo sementara subordinat berusaha melakukan perubahan. Konflik kepentingan dalam asosiasi apapun bersifat latent yang sekaligus berarti legitimasi otoritas selalu berada pada posisi rawan.
Perkembangan umum sosiologi selanjutnya pada pertengahan abad ke 20 dan awal abad ke 21 dicirikan oleh perhatian terhadap pendekatan integratif (makro-mikro, agensi-struktur) dan perbedaan pandangan tentang masyarakat kontemporer, apakah masih disebut masyarakat modern atau masyarakat  post-modern. Saya memilih dua sosiolog (seorang dari Jerman dan seorang dari AS) untuk ditampilkan pada masa ini.  

Jurgen Habermas (1929-  )
Yang menjadi pokok utama perhatian Habermas ialah tindakan komunikatif. Tindakan komunikatif ialah tindakan komunikasi antar para aktor secara rasional dan bebas tekanan dari luar. Habermas membedakan dua jenis tindakan dalam masyarakat: tindakan rasional bertujuan (kerja) dan tindakan komunikatif (interaksi). Berbeda dengan Marx, Habermas sangat tertarik pada tindakan komunikatif. Tindakan rasional bertujuan dibedakan atas tindakan intrumental (melibatkan aktor tunggal) dan tindakan strategis (melibatkan lebih dari satu aktor yang berkoordinasi) Tindakan komunikatif tidak didasarkan pada kalkulasi egosentris kesuksesan, tetapi  pada pencapaian pemahaman bersama yang memungkinkan mereka dapat mengharmoniskan rencana bertindak mereka berdasarkan definisi situasi bersama.
Habermas membagi dunia kehidupan sosial atas dua komponen: sistem (representasi perspektif eksternal) dan dunia kehidupan (representasi sudut pandang internal – aktor dalam masyarakat).
Sistem berakar pada dunia-kehidupan dan dalam perkembangannya melahirkan strukturnya sendiri, meliputi keluarga, sistem peradilan, negara, dan ekonomi.  Struktur-struktur ini berevolusi mencapai kemandirian dalam kekuasaan, akan semakin mampu mengendalikan dunia-kehidupan. Tetapi pada saat yang sama mereka semakin jauh dari dunia-kehidupan. Dalam kondisi sedemikian, justru tindakan komunikatif tidak semakin mengarah pada tercapainya konsensus. Komunikasi semakin rigid, miskin, dan terfragmentasi. Dunia-kehidupan menghadapi bahaya kehancuran.  Kondisi ini adalah akibat sistem yang “menjauh” dari dunia-kehidupan justru mengolonisasi  dunia-kehidupan. Dalam masyarakat modern ada dua kekuatan  dalam proses kolonisasi ini: uang dan kekuasaan. Hidup aktor semakin termoneterisasi dan terbirokratisasi.  Untuk mengatasi masalah ini, Habermas mengusulkan agar dunia-kehidupan dan sistem dipisahkan, dan dibangun relasi dialektis antara dunia-kehidupan dan sistem agar keduanya secara dinamis saling memperkaya.
Habermas melihat dunia modernitas sebagai “proyek yang belum selesai”. Dalam dunia modernitas rasionalitas sistem (kompleks, terdiferensiasi, terintegrasi, rasio instrumental) berbeda dan bertentangan dengan rasionalitas yang menjadi ciri dunia-kehidupan.  Akibatnya meskipun kita kaya dengan hasil-hasil rasionalisasi sistem, kita tengah miskin akan kekayaan hidup yang berasal dari dunia-kehidupan.
Habermas menentang kaum postmodernis dengan berpendapat, antara lain: kalangan postmodernis ragu apakah mereka akan menghasilkan teori serius atau sastera, postmodernis digerakkan oleh sentimen-sentimen normatif namun sentimen-sentimen itu disembunyikan dari pembaca.

Anthony Giddens (1938- )
Giddens terkenal dengan teori strukturasinya dalam upaya mengintegrasikan agensi dengan struktur. Menurut Giddens ranah dasar studi ilmu-ilmu sosial bukanlah pengalaman aktor individu, ataupun eksistensi bentuk totalitas apa pun, melainkan praktik yang ditata di sepanjang ruang dan waktu.
Jadi, inti dari teori strukturasi Giddens berfokus pada praktik sosial.
Agensi dan struktur adalah dualitas, tak terpisahkan. Semua tindakan sosial melibatkan struktur, dan semua struktur melibatkan tindakan sosial.
Ketika mengekspresikan dirinya sebagai aktor, orang melakukan praktik, dan melalui praktik inilah kesadaran (reflektif) dan struktur dihasilkan.
Giddens berbicara tentang agensi-struktur secara historis, prosesual, dan dinamis.
Terbentuknya aktor (agen) dan struktur tidak terlepas satu sama lain. Struktur adalah media dan hasil tindakan aktor dan struktur tersebut secara rekursif mengorganisasi tindakan aktor.
Bukan hanya aktor sosial saja yang bersifat reflektif, peneliti sosial yang mekakukan kajian atasnya pun demikian pula (hermeneutika ganda).
Aktor, secara sadar-reflektif, terlibat dalam pencarian rasa aman, untuk itu aktor merasionalisasikan dunianya, agar tujuan tindakan tercapai secara efisien.
Giddens membedakan antara kesadaran diskursif (penjabaran tindakan dalam kata-kata) dan kesadaran praktis (tindakan diterima  begitu saja oleh aktor tanpa mengekspresikan apa yang dilakukan lewat kata-kata). Tipe kedua ini berfokus pada apa yang dilakukan bukan pada apa yang dikatakan.
Kemampuan untuk mengadakan perubahan berada di tangan aktor, karena itu aktor harus memiliki kekuasaan yang memungkinnya menciptakan perbedaan.
Struktur sosial bisa menghambat, tapi jangan dilebih-lebihkan, karena bagi Giddens, struktur selalu menghambat dan mendorong.
Bagi Giddens, masyarakat modern belum memasuki post-modern. Ia mendefinisikan modernitas berdasarkan empat institusi dasar: Kapitalisme, industrialisme, kapasitas pengawasan, kontrol atas sarana kekerasan.
Kedinamisan modernitas dikenali lewat tiga aspek terpenting: penjarakan (ruang terpisah dari waktu, keterkaitan ruang dan waktu terputus), keterlepasan (“diangkatnya” relasi sosial dari konteks interaksi lokal ke aras global), reflektifitas.
Bagi Giddens dunia modern (modernitas adalah kebudayaan berisiko) sedang bergerak menuju dunia yang akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan moral  (sosial dan indifidual). Karena itu dunia setelah modernitas ditandai dengan remoralisasi.
Giddens menolak gagasan teoretisi post-modernisme tentang kemustahilan suatu pengetahuan yang sistematis; pandangan ini akan menyebabkan kita menolak seluruh aktifitas intelektual.

Teori Sosial Postmodernitas dan Post-postmodernitas
Salah seorang tokoh postmodernis, Fredric Jameson menggambarkan ciri dunia postmodernitas, sbb.: dangkal dan superfisial, miskin perasaan dan emosi, manusia kehilangan tempat dalam sejarah (sulit membedakan masa lalu, masa kini, masa depan), dominasi teknologi yang implosif.
Masyarakat postmodern dengan ciri di atas memerlukan cara berpikir yang berbeda dengan masyarakat modern. Kaum postmodernisme menolak: narasi besar, pembatasan disiplin, mencari isu-isu pinggiran ketimbang masalah inti masyarakat.
Kritik terhadap teori postmodernisme:
1)      Gagal memenuhi standar ilmiah modern.
2)      Pengetahuan yang dihasilkan postmodernisme tidak dapat dipandang  sebagai pengetahuan keilmuan, tetapi lebih merupakan idelogi.
3)      Postmodernisme tidak mengakui adanya norma keilmuan, mereka bebas melakukan apa yang mereka sukai, bermain-main dengan berbagai gagasan. Generalisasi ditawarkan tanpa penilaian.
4)      Gagasan postmodern seringkali begitu kabur dan abstrak sehingga sulit mengaitkannya dengan dunia sosial.
5)      Ditengah-tengah mereka mengkritik narasi besar teoritisi modern, para teoritisi postmo justru menawarkan jenis narasi mereka sendiri.
6)      Dalam analisis mereka, para teoritisi sosial postmodern seringkali menawarkan kritik atas masyarakat modern, namun kritik mereka sulit diterima karena tidak memiliki basis normatif. Apalagi mereka tidak memiliki gambaran tentang masyarakat yang ideal.
7)      Meskipun para teoritisi sosial postmodern berpegang teguh pada apa yang mereka pandang sebagai isu-isu sosial utama, namun seringkali mereka berakhir dengan pengabaian  atas hal-hal dipandang banyak orang sebagai masalah utama sosial masa kininya.
( Lihat, Ritzer dan Goodman, 683,684).
Muncul teori sosial post-postmodern yang mengoreksi kelemahan teori sosial postmodern yang dipandang mengabaikan subyek manusia dan dipandang anti humanisme. Aliran post-postmodern membela norma-norma universal dan rasional dalam moral dan politik serta hak asasi manusia.
Share:

About