Saturday, March 5, 2016

Pemikiran Karl Marx

Pemikiran Karl Marx 
1. Modal, Kaum Kapitalis, dan Kaum Proletariat
Marx menemukan inti kaum kapitalis di dalam komoditas. Masyarakat yang didominasi oleh benda-benda dengan nilai utamanya adalah pertukaran, menghasilkan manusia-manusia kategori tertentu. Dua tipe utama yang diperhatikan Marx adalah kaum ploretariat dan kapitalis. Mari Kita mulai dengan Kaum Ploretariat.
Para pekerja yang menjual tenaga kerja mereka dan tidak memiliki alat-alat produksi sendiri adalah anggota kaum ploretariat. Mereka tidak memiliki peralatan sendiri atau pabrik-pabrik. Marx percaya bahwa kaum proletariat pada akhirnya kehilangan keahlian ketika mereka melayani mesin-mesin yang sudah menggantikan keahlian mereka. Karena aanggota kaum ploretariat berproduksi hanya untuk pertukaran, mereka juga merupakan konsumen. Karena mereka tidak mempunyai alat-alat untuk berproduksi bagi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri, mereka harus menggunakan upahnya untuk membeli kebutuhannya. Akibatnya, untuk dapat bertahan hidup kaum ploretariat bergantung sepenuhnya pada upahnya. Hal ini membuat kaum ploretariat bergantung pada orang-orang yang membayar upah. Orang-orang yang membayar upah adalah kaum kapitalis. Kaum kapitalis adalah orang-orang yang memiliki alat-alat produksi. Sebelum kita dapat memahami kaum kapitalis, pertama-tama kita harus memahami kapitalisme itu sendiri. Kapital (modal) yang menghasilkan uang yang lebih banyak lagi, modal adalah uang yang ditanamkan dari pada digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginan manusia. Perbedaan itu menjadi lebih jelas ketika kita melihat pada apa yang dianggap Marx sebagai titik tolak ”titik tolak modal” (1867/1967:146): Sirkulasi komoditas. Marx mendiskusikan dua tipe sirkulasi komoditas. Satu tipe sirkulasi adalah khas kapital: Uang (Money) – Komoditas (Commodities) – (dengan jumlah yang lebih besar) Uang (Money).
Modal adalah uang yang telah menghasilkan uang yang lebih banyak, tetapi Marx mengatakan yang lebih banyak, dari pada itu: modal juga adalah suatu relasi sosial yang khusus. Uang menjadi modal hanya karena suatu relasi sosial yang khusus. Uang menjadi modal hanya karena suatu relasi sosial di antara, di satu pihak, kaum ploretariat, yang melakukaan pekerjaan dan harus membeli produk, dan, dipihak lain, orang-orang yang telah menanamkan uang itu. Kemampuan modal untuk menghasilkan keuntungan tampak ”sebagai suatu kekuatan yang diberikan oleh Alam  - suatu kekuasan produktif yang selalu ada di dalam modal. Menurut Marx, itu adalah relasi kekuasaan. Modal tidak dapat bertambah kecuali dengan mengeksploitasi orang-orang yang benar-benar melakukan pekerjaan itu. Para pekerja dieksploitasi oleh suatu sistem, ironinya ialah bahwa sistem itu diproduksi melalui tenaga kerja dan para pekerja itu sendiri. Sistem kapitalis adalah struktur sosial yang muncul dari hubungan eksploitatif itu. Para kapitalis adalah orang-orang yang hidup oleh keuntungan modal. Mereka adalah ahli waris eksploitasi kaum proletariat. Di dalam ide modal termuat suatu relasi sosial diantara orang-orang yang mempunyai alat-alat produksi dan orang-orang tenaga kerja upahnya dieksploitasi.[1]

2.  Eksploitasi
            Bagi Marx, ekploitasi dan dominasi lebih dari sekedar distribusi kesejahteraan dan kekuasaan yang tidak seimbang.  Ekspliotasi merupakan suatu bagianpenting dari ekonomi kapitalis.  Tentu saja masyarakat memiliki sejarah eksploitasi, tetapi yang unik dalam kapitalisme adalah bahwa eksploitasi dilakukan oleh sistem ekonomi yang impersonal dan “objekti”.  Kemudian paksaan jarang dianggap sebagai kekerasan, malah menjadi kebutuhan pekerja itu sendiri,  yang biasaterpenuhi hanya melaui upah, secara ironis Marx menggabarkan kebebasan upah kerja ini. 
Untuk menggubah uangnya menjadi kapital ....pemilik uang harus bertemu di dalam pasar dengan buru-buruh bebas, bebas dalam dua pengrtian, dari satu sisi sebagai seseorang yang bebas dia bisa mengatur tenaganya sebagai komoditasnya sendiri,  dan disisi lain sebagai seseorang yang tidak memiliki komoditas lain untuk dijual,  dia kekurangan segala sesuatu yang penting untuk merealisasikan tenaganya.
Para pekerja menjadi”buruh- buruh yang bebas”, membuat kontrak-kontrak bebas dengan para kapitalis.  Namun , Marx percaya bahwa para pekerja tidak lagi mampu memproduksi demi kebutuhan mereka sendiri.  Hal ini benar khususnyakarena biasanya kapitalisme menciptakan apa yang disebut Marx sebagai”tentara cadangan” dari pengagguran yang mau melakukanya.  Inilah misalnya yang ditemukan Barbara Ehrenreich sebagai tujuan iklan lowongan kerja berupah yang rendah.
            Kapitalisme membayar para pekerja kurang dari nilai yang mereka hasilkan dan meraup keuntungan untuk diri mereka sendiri. Hal ini membawa kita pada konsep sentral tentang nilai-nilai suplus.  Nilai surplus di didefinisikan sebagai perbedaan antara nilai produksi ketika dijual dan nilai elemen-elemen yang digunakan untuk membuat poduk tersebut (termasuk kerja para pekerja).  Kaptalisme biasanya menggunakan keuntungan ini untuk konsumsi pribadi, akan tetapi hal tersebut belum mengakibatkan ekspansi kapitalisme.  Kapitalis melebarkan perusahaa mereka dengan menggubah nilai-surplus itu menjadi modal yang akan menghasilkan nilai-nilai surplus yang lebih banyak. Marx memberiakan sebuah ibarat, tentang hal ini” kapitalisme merupakan kerja mati, seperi vampir, yang hiup dengan menhisap kehidupan kerja, dan makan dia hidup, makin banyak kerja yang dihisapnya”
            Marx menggemukakan poin penting lainya tentang kapital” kapital eksis dan hanya bisa eksis sebagai kapital-kapital.  Maksudnya disini adalah bahwa kapitalisme selalu di dorong oleh kompetisi yang tiada henti. Kapitalisme mungkin terlihat terkontrol, meskipun mereka didorong oleh kompetisi yang konstan antara kapital-kapial. Kapital dipaksa untuk memperoleh  lebih banyak keuntungan demi mengakumulasikan dan menginvestasikan lebih banyak kapital. “ begitulah, kapitalis sama dengan si kikir dalam sebuah hal yang absolut, yakni memperkaya diri sendiri. Namun yang terlihat pada si kikir sebagai kegilaan individu, maka dalam kapitlis terlihat terliha sebagai efek dari mekanisme sosial yan roda penggeraknya adalah dirinya sendiri.
            Keingginan untuk memperoleh lebih banyak keuntungan dan lebih banyak nilai surplus untuk ekspansi, mendorong kapitalisme pada apa yang disebut Marx denagan hukum-hukum akumulasi kapital. Kapitalis berusaha mengesploitasi pekerja semaksimal mungkin:  tertendensi konstan kapitalis adalah untuk memaksaonkos kerja kembali..ke angka Nol”.  Marx berpendapat bahwa struktur dan etos kapitalisme mendorong kapitalis dalam mengarahkan akumulasi pada penumpukan kapital yang lebih banyak lagi.  Unutk melakukan hal ini, berdasarkan pandangan Marx bahwa kerja merupakan sumber nilai, kapitalis digiring untuk meningkatkan eksploitasi terhadap proletariat. Inilah yang mendorong terjadinya konflik kelas.

3. Materialisme Historis Marx
The communist Manifesto (1848), adalah suatu karya besar yang ditandai dengan slogan-slogan politik (misalnya kaum buruh bersatulah). Suatu penilaian atas peradaban kapitalis yang ambivalen yaitu peradaban yang menjadikan sesuatu menjadi mungkin dan menyingkirkan realisasi diri, potensi kemanusiaan. Das Capital, ditulis dalam 3 jilid, dan jilid pertama diterbitkan pada tahun 1867 dan kedua jilid lainnya setelah Marx meninggal. Tulisan ini meruapakan gamabaran kegagalan revolusi politik tahun 1848, dimana akhirnya Marx menarik diri dari aktivitas revolusioner dan beralih ke kegiatan penelitian tentang kapital. Marx menjadi sangat terkenal atas karya ini dan menjadi pimpinan The International sebuah gerakan  buruh internasional dan sangat aktif mencurahkan perhatian pada gerakan ini. Menurut Marx kontradiksi harus terjadi di tingkat sejarah yang bertolak dari materi (bukan sejarah idea), dengan mengambil kekuatan dari Imanuel Kant dan Hegel yaitu mengenai model kontradiksi, dialektika, dan sejarah. Dalam gambaran karikatural “historis Idealisme” ia hal itu bagaikan orang yang berjalan dengan kepalanya, sehingga kaki-kakinya tidak pernah menyentuh bumi. Berbeda dengan materialisme historis, adalah manusia yang sempurna ia berjalan dengan kakinya (kakinya benar-benar menyentuh bumi). Menurut Marx, ide jauh dari bumi sedangkan materi menjejakkan kakinya di bumi, jadi sebenarnya yang mengubah masyarakat dari waktu ke waktu itu adalah materi.[2] Dasar atau fundamen masyarakat terletak dalam kehidupan materilnya. Dengan bekerja manusia menghasilkan (berproduksi) untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat. Karena pada dasarnya manusia itu produkti, artinya untuk bertahan hidup manusia perlu bekerja di dalam dan dengan alam dengan bekerja seperti mereka mendapatkan makanan, pakaian, perumahan, dan kebutuhan lain yang memungkinkan mereka hidup. Produktivitas mereka bersifat alamiah, yang memungkinkan mereka mewujudkan dorongan kreatif mendasar yang mereka miliki. Dorongan ini yang mewujudkan mereka bersama dengan orang lain. Dengan kata lain manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial. Mereka perlu bekerjasama untuk menghasilkan segala sesuatu yang mereka perlukan untuk hidup.[3] Konsep Materialistis Marx yang diterapkan pada perubahan sejarah untuk pertama kalinya dijelaskan dalam The German Ideology, disusun oleh Engeles. Tema pokok dalam karya ini adalah bahwa perubahan-perubahan dalam bentuk-bentuk kesadaran, ideologi-ideologi, atau asumsi-asumsi filosofis mencerminkan bukan menyebabkan perubahan-perubahan dalam kehidupan sosial dan materil manusia.[4]

4. Kelas Sosial dan Kesadaran Kelas
Kapitalisme adalah sistem ekonomi dimana sejumlah besar pekerja yang hanya memiliki sedikit hak milik, memproduksi komoditas-komoditas demi keuntungan sejumlah kecil kapitalis yang memiliki hal-hal berikut: komoditas-komoditas, alat-alat produksi, dan bahkan waktu kerja pada pekerja karena membeli para pekerja tersebut melalui gaji. Namun, salah satu pengertian sentral Marx bahwa Kapitalisme lebih dari sekedar sistem ekonomi. Paling penting lagi, kapitalisme adalah sistem kekuasaan. Rahasia kapitalisme adalah bahwa kekuatan-kekuatan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi (Wood, 1995). Parakapitalis bisa memaksa pekerja dengan kewenangan mereka untuk memecat dan menutup pabrik-pabrik. Karena hal inilah, para kapitalis bebas untuk menggunakan paksaan yang kasar. Maka kapitalisme tidak hanya menjadi sekedar sistem ekonomi, pada saat yang sama, kapitalisme juga merupakan sistem politis, suatu cara menjalankan kekuasaan, dan suatu proses eksploitasi atas para pekerja. Dibawah kapitalisme, ekonomi tampil kepada kita sebagai kekuatan alamiah. Parapekerja diberhentikan, upah dikurangi, pabrik-pabrik ditutup, itu semua karena ekonomi. Kita semua tidak melihat semua ini sebagai keputusan-keputusan sosial dan politis. Hubungan-hubungan antara penderitaan manusia dan struktur2 ekonomi dianggap tidak relevan. Tujuan Marx adalah untuk memperjelas aspek sosial dan politis dari ekonomi dengan memperlihatkan  “hukum gerak ekonomi masyarakat modern”, selain  itu Marx juga ingin memperlihatkan kontradiksi internal yang akan mengubah kapitalisme.[5]
Marx sebenarnya menginginkan suatu keadaan masyarakat seperti pemikir sosialis utopian tentang suatu masyarakat yang hidup tanpa kelas. Untuk itu ia lebih memikirkan upaya untuk membantu mematikan kapitalisme. Ia yakin bahwa kontradiksi dan konflik dalam kapitalisme akan menyebabkan kehancuran. Oleh karena itu untuk menciptakan sistem sosialisme orang harus bertindak pada waktu dan cara yang tepat, karena di sisi lain kapitalisme memiliki sumber daya yang kuat dalam mencegah munculnya sosialisme. Menurut Marx kapitalisme dapat dikuasai jika kaum proletariat dapat melakukan tindakan secara bersama mewujudkan suatu sistem sosialisme yang dalam pengertian masyarakat dimana orang mula-mula akan mendekati citra ideal. Walaupun dengan bantuan teknologi modern dalam masyarakat yang ideal itu tetap berinteraksi dengan alam dan orang lain secara selaras untuk menciptakan segala sesuatu yang mereka butuhkan dalam hidup. Dengan kata lain, dalam masyarakat manusia tidak lagi teralienasi.[6] Jadi “dalam ekonomi politik kita bisa menemukan anatomi masyarakat sipil “. Struktur ekonomi masyarakat merupakan “fondasi riil yang menjadi dasar pendirian bangunan yuridis dan politik, serta menjadi jawaban atas bentuk-bentuk kesadarn sosial yang telah ditentukan” bukan kesadaran manusia yang menentukkan eksistensinya, malahan sebaliknya “eksistensi sosialnya yang menentukan kesadaran mereka”.[7]

5.      Agama
            Marx juga melihat agama sebagai sebuah ideologi.  Dia merujuk pada agama sebagai candu masyarakat.  Marx percaya bahwa agama, seperti halnya ideologi, merefleksikan suatu kebenaran, namun terbalik.  Karena orang-orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketertindasan mereka diciptakan oleh sistem kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama.  Marx dengan jelas menyatakan bahwa dia tidak menolak agama, pada hakikatnya, melainkan menolak suatu sistem yang mengandung ilusi-ilusi agama. Bentuk keagamaan ini mudah di kacaukan dan oleh karena itu selalu berkemungkinan untuk menjadi dasar suatu gerakan revolusioner.  Kita juga melihat bahwa gerakan-gerakan keagamaan sering berada garda depan dalam melawan kapitalisme (lihat,misalnya, teologis pembebasan).

6.  Komunisme dan Sosialisme
Istilah sosialisme selalu identik dengan sosok Karl Marx. Padahal pemikiran tentang sosialisme terlampau jauh berkembang sejak abad ke V – sebelum Marx mulai memikirkan recolusi proletariat. Pemikiran Marx sendiri tentang sosialisme sebenarnya sudah termaktub dalam beberapa karya dan budaya Yunani kuno – meskipun terbatas pada objek dari sosialisme itu sendiri. sosialisme untuk semua digagas oleh Jambulos dan Euhemeros. Jambulos mendeskripsikan sebuah ‘negara matahari’ dimana segala-galanya – termasuk para isteri – dimiliki bersama.
Kata ‘sosialisme’ sendiri mucul di Prancis sekitar tahun 1830, begitu juga ‘komunisme’. Kedua kata ini pada awalnya memiliki makna yang selaras, namun ‘komunisme’ segera dipakai oleh golongan sosialis radikal, yang menuntut penghapusan total hak milik pribadi dan kesamaan konsumsi serta mengharapkan keadaan komunis itu dari kebaikan pemerintah, melainkan semata-mata dari perjuangan kaum terhisap sendiri (Frans. 2003:14). Sosialisme pada abad pertengahan memiliki motif-motif yang erat dengan nilai-nilai religius tertentu, yaitu Kristen. Terutama dalam pertimbanhan tentang penyambutan Kerajaan Allah, Orang harus bebas dari keterikatan.
Sedangkan memasuki zaman pencerahan, perkembangan paham sosialisme tidak mampu berkembang pesat. Hal ini disebabkan dominasi golongan borjuasi yang menuntut kebebasan politik supaya dapat bebas berusaha dan berdagang untuk kepentingan milik pribadi – sebesar dan sebebas mungkin. Sejak bergulirnya Revolusi Prancis (1789-1795), sosialisme memasuki era modern dalam perkembangannya. Keyakinan dasar para pemimpin sosialis modern adalah, secara prinsipil produk pekerjaan merupakan milik si pekerja. Milik bersama dianggap tuntutan akal budi. Mereka meyakini bahwa masyarakat akan berjalan jauh lebih baik kalau tidak berdasarkan milik pribadi.
Sejalan dengan perkembangan sosialisme, paham komunisme sebagai ‘sosialisme radikal’ pun berkembang mengiringi perkembangan induknya. Sejarah perkembangan kedua pemikiran ini – sampai saat ini – seolah mengerucut pada pergolakan yang terjadi di belahan Eropa, khusunya Uni Soviet – sekarang Rusia. Diantara tokoh-tokoh yang memiliki dominasi penuh atas kedua pemikiran ini adalah Karl Marx, Engels, Stalin, dan George Lukaes. Oleh karena itu, untuk memahami perkembangan pemikiran sosialis dan komunis, penulis menitik beratkan kajian pada perkembangan pemikiran Marx, Engels, dan Stalin. Sedangkan untuk memperkuat pengaruh pemikiran sosialisme dan komunisme modern, tulisan George Lukaes yang berjudul History and Class Conciousness (1923) tentunya tidak dapat ditinggalkan. 

      7. Kegiatan dan Alienasi
Inti seluruh teori Marx adalah proposisi bahwa kelangsungan hidup manusia serta pemenuhan kebutuhannya tergantung pada kegiatan produktif di mana secara aktif orang terlibat dalam mengubah lingkungan alamnya. Namun, kegiatan produktif itu mempunyai akibat yang paradoks dan ironis, karena begitu individu mencurahkan tenaga kreatifnya itu dalam kegiatan produktif , maka produk-produk kegiatan ini memiliki sifat sebagai benda obyektif yang terlepas dari manusia yang membuatnya.
Tentang alienasi menurut Marx merupakan akibat dari hilangnya kontrol individu atas kegiatan kreatifnya sendiri dan produksi yang dihasilkannya. Pekerjaan dialami sebagai suatu keharusan untuk sekedar bertahan hidup dan tidak sebagai alat bagi manusia untuk mengembangkan kemampuan kreatifnya. Alienasi melekat dalam setiap sistem pembagian kerja dan pemilikan pribadi, tetapi bentuknya yang paling ekstrem ada di dalam kapitalisme, dimana mekanisme pasar yang impersonal itu, menurunkan kodrat manusia menjadi komoditi, dilihat sebagai satu pernyataan hukum alam dan kebebasan manusia. bentuk ekstrem alienasi itu merupakan akibt dari perampasan produk buruh oleh majikan kapitalisnya.
Marx menekankan bahwa alienasi kelihatannya benar-benar tidak dapat dielakkan dalam pandangan mengenai kodrat manusia yang paradoks. Di satu pihak manusia menuangkan potensi manusiawinya yang kreatif dalam kegiatannya, dilain pihak, produk-produk kegiatan kreatifnya itu menjadi benda yang berada di luar kontrol manusia yang menciptakannya yang menghambat kreativitas mereka selanjutnya.
Bagi Marx alienasi akan berakhir, bila manusia mampu untuk mengungkapkan secara utuh dalam kegiatannya untuk mereka sendiri, sehingga ekspolitasi dan penindasan tidak menjangkiti manusia lagi.



[1] George Ritzer, Teori Sosiologi, Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern,Yogyakarta 2012
[2]  Agus Salim, Perubahan Sosial : Sketsa Teori, Refleksi Metodologi dan KasusIndonesia,Yogyakarta : PT Tiara Wacana, 2002, hlm  29.
[3]  George Ritzer dan Douglas J.Googman, Teori Sosial Modern,Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007, hlm 31.
[4]  Roberth M.Z. Lawang, Teori Sosiologi Klasik Modern,Jakarta : Pt Gramedia, 1988, 130.
[5]  Ibid, 58-59
[6]  Ibid, 34
[7]  Anthony Giddens, Daniel Bell, Michael Forse,dkk. Sosiologi (Sejarah dan Berbagai Pemikirannya),Yogyakarta,  Kreasi Wacana,2004, hlm 23.
Share:

Tokoh-Tokoh Pencetus Teori Sosial Klasik

Teori Sosial Klasik telah berkembang cukup lama dan telah banyak tokoh-tokoh pencetus Teori Sosial Klasik. Dibawah ini adalah beberapa Tokoh Teori Sosial Klasik yang berpengaruh pada dunia.

Socrates
Socrates adalah seorang filsuf di era filsafat kuno yang berasal dari Athena, Yunani. Dia hidup sekitar 469 S.M – 399 S.M. Selain itu, Socrates juga termasuk salah satu figur paling penting dalam tradisi filosofis Barat dimana dia adalah generasi pertama dari tiga ahli filsafat yang memiliki nama besar di Yunani, yaitu Socrates, Plato, dan Aristoteles. Pada awalnya Socrates adalah guru dari Plato, dan generasi selanjutnya, Plato menjadi guru dari Aristoteles. Socrates sendiri selama hidupnya tidak pernah meninggalkan buah pemikirannya dalam bentuk karya tulis apapun. Sosoknya justru lebih dikenal dari sumber literatur yang ditulis oleh muridnya, Plato, dimana Socrates hamper selalu menjadi tokoh utamanya.
Socrates lahir sekitar 469 S.M, diperkirakan ayah Socrates adalah seorang pemahat patung batu (Stone Mason) bernama Sophroniskos dan ibunya adalah seorang bidan bernama Phainarete. Dari profesi ibunya inilah Socrates nantinya menamai metode berfilsafatnya sebagai metode kebidanan. Socrates juga memiliki tiga orang anak dari istrinya yang bernama Xantippe.
Pemikiran filsafat Socrates sendiri mengundang pertanyaan karena selama hidupnya Socrates tidak pernah menuliskannya dalam bentuk apapun. Apa yang dianggap sebagai buah pikirnya saat ini adalah hasil catatan murid-muridnya seperti, Plato, Xenophone (430-357 S.M.), dan lain-lain. Dari kesemua itu yang paling terkenal adalah pengambaran Plato akan gurunya dalam dialog-dialog yang ditulisnya. Dalam karyanya Plato selalu menggunakan nama Socrates sebagai tokoh utama, karena itu, memisahkan gagasan asli Socrates sangat sulit dipisahkan dari gagasan Plato yang disampaikan melalui mulut Socrates dalam karya tulisnya. Plato sendiri hanya menulis tiga kali namanya sendiri dalam karya-karya tersebut, dua kali dalam Apoligi, dan sekali dalam Phaedrus.

Penampilan Socrates dikenal dengan seorang yang tidak tampan, dengan pakaian sederhana, dan tanpa alas kaki berkeliling mendatangi orang-orang Athena untuk berdisksi tentang filsafat. Pada awalnya ini dilakukannya untuk memastikan suara gaib yang didengar temannya dari Oracle Delphi yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang lebih bijak dari Socrates. Merasa tidak memiliki sesuatu apapun yang dapat dikatakan bijak dalam dirinya, Socrates berkeliling mencari orang-orang yang dianggap bijak pada masa itu dan mengajaknya berdisksi tentang berbagai masalah kebijaksanaan. Metode inilah yang oleh Socrates disebut sebagai metode kebidanan, dimana dia menganalogikan dirinya sebagai bidan yang membatu kelahiran sebuah pikiran melalui proses dialektik yang panjang dan mendalam, sama seperti seorang bidan yang membantu kelahiran seorang bayi. Yang dikejarnya dari proses diskusi tersebut adalah sebuah definisi absolut tentang satu masalah meskipun seringkali orang yang diajaknya berdiskusi gagal mencapai definisi tersebut. Akhirnya Socrates sampai pada kesimpulan bahwa suara gaib yang didenganr temannya itu adalah benar, karena pada kenyataannya dia memang bijaksana karena dia tidak merasa bijaksana. Sedang orang-orang yang diajaknya berdiskusi adalah orang yang tidak bijaksana karena mereka merasa sebagai orang yang bijaksana.



Karl Marx
Marx merupakan tokoh besar dalam sosiologi dimana dia masuk dalam kategoris aliran klasik, selain Comte, Durkheim, Weber, Simmel, Spencer, dll. Karl Marx dilahirkan di TrierJerman, daerah rhine tahun 1818. Berasal dari keluarga borjuis dan berpendidikan. Pada usia 18 Marx belajar hukum di universitas Bonn, kemudian pindah ke Universitas Berlin. Disana, sewaktu Marx masih muda, begitu terkesima dengan filsafat Hegel, dimana ketika itu arus besar pengikut Hegel begitu meluas. Padangan Hegel yang terkenal idealistik, dimana dia percaya bahwa kekuatan yang mendorong perubahan sejarah adalah munculnya ide-ide dengan mana roh akal budi menjadi lebih lengkap manifestasinya.Tetapi sebagai penganut Hegel, Marx adalah penganut yang kritis yang mengembangkan posisi teoritis dan filosofisnya. Tetapi Marx tetap sepakat dengan bentuk analisa dialektik-nya hegel.
Marx sebenarnya ingin berkarir di dunia akademis, tetapi karena sponsornya dipecat karena pandangan-pandangan kiri dan anti agama, maka tertutuplah pintu masuk Marx untuk ke dunia akademis. Akhirnya marx berkarir di media (surat kabar) sebagai pemimpin redaksi pada koran yang radikal-liberal. Setelah Marx menikah lalu Marx pindah ke paris, dan terlibat dalam kegiatan radikal. Paris pada masa itu merupakan suatu pusat liberalisme dan radikalisme sosial serta intelektual penting di Eropa. Marx berkenalan dengan pemikir-pemikir penting dalam pemikiran sosialis dan tokoh-tokoh revolusioner seperti St. Simon. Blanqui, dll. Hal tersebut akhirnya mengubah keyakinan marx akan penyalahgunaan sistem kapitalis yang meluas dapat dihilangkan oleh perubahn sosial yang hanya didukung oleh elit intelektual saja. Pendekatan itu bagi Marx mengabaikan kondisi materil dan sosial yang sebenarnya dan taraf kesadaran kelas-kelas buruh. Di Paris Marx bersahabat dengan Friedrich Engels yang berkarya mengenai interpretasi komprehensif tentang perubahan dan perkembangan sejarah sebagai alternatif terhadap interpretasi Hegel mengenai sejarah, yang terkenal dengan The German Ideology.
Pada tahun 1845 Marx diusir dari Paris, atas karya-karyanya yang berbau sosialis. Lalu akhirnya setelah itu Marx semakin tertarik dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosialis. Semasa hidupnya Das kapital merupakan karya terbesar. Selain karya-karya Marx yang lain yang akan dijelaskan dalam tulisan ini mengenai pemikiran-pemikiran Karl Marx, yang tidak hanya dalam Das Kapital.

Pemikiran Karl Marx bisa dilihat disini



Share:

Sunday, November 29, 2015

Situs download ebook Lengkap

Postingan kali ini saya ingin berbagi kepada teman-teman semua, situs ebook yang lengkap dan gratis. Situs ini memang dari luar negeri oleh karena itu ebooknya berbahasa Inggris. Bagi teman-teman yang sedang menimba ilmu diperguruan tinggi, situs-situs dibawah ini bias menolong anda semua. Namun mohon maaf kalau sampai postingan ini saya sebar luaskan, ada situs-situs dibawah ini yang sudah dihapus oleh Google atau bias juga karena permintaan para penulis ebook yang rata-rata masih dipakai menjadi pegangan dosen dan mahasiswa diasalnya, juga karena masih dipajang juga di took buku konvensional dan toko online seperti Amazon.

en.bookfi.org


Situs unduhan dari negeri Beruang Merah ini cukup lengkap, dengan 2.220.696 buku per 7 Desember 2013. Halaman mukanya berbahasa Rusia, namun Anda dapat mengganti bahasa pengantarnya di sudut kanan atas. Situs ini tersedia dalam tiga bahasa, yaitu Rusia, Inggris, dan Ukraina.

Libgen.info (Library Genesis)
Kabar terbaru, alamat situs ini telah dipindahkan ke lib.freescienceengineering.org, dan apabila Anda mengetikkan alamat libgen.info di adress bar, maka akan ter-redirect ke situs ini. Berikut saya contohkan pencarian buku Gun, Germs, and Steel karya Jared Diamond menggunakan libgen.




Share:

Wednesday, November 18, 2015

KEBENARAN ILMIAH DALAM SOSIOLOGI

Pendahuluan

  1. Pengertian Kebenaran
              Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebenaran merupakan kata benda yang berarti 1). keadaan (hal dsb.) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya; 2).  keabsahan; kecocokan (keadaan dsb.) dengan yang sesungguhnya; 3). sesuatu yang sungguh-sungguh (benar-benar) ada; 4). kejujuran; ketulusan hati.[1] Kata “kebenaran” menurut Abas Hamdani M.[2] dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak.  Jika subyek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proporsi yang benar. Proporsi maksudnya adalah makna yang terkandung dalam suatu peryataan atau statement. Apabila subyek menyatakan kebenaran bahwa proporsi yang diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan, dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan, dan nilai itu sendiri.
              Abas Hamdani M[3], menjelaskan bahwa kebenaran berkaitan dengan beberapa hal: Pertama, Kebenaran berkaitan dengan kualitas pengetahuan. Artinya bahwa setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui  suatu obyek ditilik dari jenis pengetahuan yang dibangun.  Maksudnya apakah pengetahuan itu berupa:

  1. Pengetahuan biasa atau biasa disebut knowledge of the men in the street  atau ordinary knowledge atau common sense knowlwdge. Pengetahuan seperti ini memiliki kebenaran yang bersifat subyektif.
  2. Pengetahuan ilmiah, yaitu pengetahuan yang telah menetapkan obyek yang khas atau spesifik dengan menerapkan metodologis yang khas, artinya metodologi yang telah mendapatkan kesepakatan dari antara para ahli yang sejenis. Kebenaran yang terkandung dalam pengetahuan ilmiah bersifat relatif, maksudnya kandungan kebenaran dari jenis pengetahuan ilmiah selalu mendapatkan revisi yaitu selalu diperkaya oleh hasil penemuan yang paling akhir.
  3. Pengetahuan filsafati, yaitu jenis pengetahuan yang pendekatannya melalui metodologi pemikiran filsafati, yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dengan model pemikiran yang analitis, kritis dan spekulatif. Sifat kebenarannya adalah absolute-intersubyektif, maksudnya adalah nilai kebenaran yang terkandung jenis pengetahuan filsafat selalu merupakan pendapat yang selalu melekat pada pandangan filsafat seorang pemikir filsafat itu selalu mendapat pembenaran dari filsuf kemudian yang menggunakan metodologi pemikiran yang sama pula. Jika pendapat filsafat itu ditinjau dari sisi lain artinya dengan pendekatan filsafat yang lain sudah dapat dipastikan hasilnya akan berbeda atau bahkan bertentangan  atau menghilangkan sama sekali.
  4. Kebenaran  pengetahuan yang terkandung dalam pengetahuan agama. Pengetahuan agama memiliki sifat dogmatis, artinya penyataan dalam suatu agama selalu dihampiri oleh keyakinan  yang telah tertentu sehingga pernyataan-pernyataan dalam ayat-ayat kitab suci agama memiliki nilai kebenaran sesuai dengan keyakinan yang digunakan untuk memahaminya itu. Implikasi makna kandungan kitab suci itu dapat berkembang secara dinamik sesuai dengan perkembangan waktu, akan tetapi kandungan maksud ayat kitab suci itu tidak dapat diubah dan sifatnya absolut.
            Kedua, kebenaran dikaitkan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuannya. Ia membangunnya dengan penginderaan, atau akal pikir, atau ratio, intuisi, atau  keyakinan. Implikasinya adalah akan mengakibatkan karakteristik kebenaran yang dikandung oleh pengetahuan  itu akan memiliki cara tertentuuntuk membuktikannya, artinya jika seseorang membangunnya melalui indera maka pada saat ia membuktikan kebenaran pengetahuan ia harus melalui indera pula. Jenis pengetahuan menurut criteria karakteristiknya dibedakan dalam jenis pengetahuan (1) pengetahuan inderawi, (2) pengetahuan akal budi, (3) pengetahuan intuitif, (4) pengetahuan kepercayaan atau pengetahuan otoritatif.
              Ketiga. Kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Artinya bagaimana relasi atau hubungan antara subyek dan obyek, manakah yang dominan  untuk membangun pengetahuan itu, subjekkah atau objek. Jika subjek yang berperan maka jenis pengetahuan itu mengandung nilai kebenaran dari pengetahuan yang dikandungnya itu amat tergantung pada subjek yang memilikipengetahuan itu. Atau jika objek amat berperan maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam.


  1. Pengertian Ilmiah

          Dalam Kamus Bahasa Indonesia kata ilmiah (kata benda) diartikan:  secara ilmu pengetahuan; sesuai dengan syarat atau hukum ilmu pengetahuan.[4] Menurut Archie J. Bahm[5], masalah disebut ilmiah apabila sekurang-kurangnya  memiliki tiga ciri, yaitu dapat dikomunikasikan (communicability), dapat ditangani dengan sikap ilmiah (scientific attitude) dan dengan metode ilmiah (scientific method).

          Selanjutnya Archie J. Bahm  menjelaskan ketiga hal tersebut sebagai berikut:

  1. Masalah akan menjadi ilmiah jika dikomunikasikan.
  2. Sikap ilmiah meliputi lima ciri utama, yaitu: keingintahuan, kespekulatifan, kemauan untuk obyektif, kemauan untuk menunda keputusan, dan bersifat sementara.
  3. Metode Ilmiah. Ada lima tahap, yaitu: kesadaran akan adanya masalah, memeriksa masalah., mengusulkan penyelesaian menguji usulan dan pemecahan masalah.


  1. Kebenaran Ilmiah
    Dalam sejarah filsafat, sekurang-kurangnya ada empat teori kebenaran, yaitu a) teori kebenaran sebagai persesuaian (the correspondence theory of truth), b) teori kebenaran sebagai keteguhan (the coherence theory of truth), c) teori pragmatis tentang kebenaran (the pragmatic theory of truth), d) teori performatif tentang kebenaran (the performative theory of truth)[6].

  1. Teori kebenaran sebagai persesuaian (the correspondence theory of truth)
    Menurut teori ini, kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan apa adanya. Kebenaran terletak pada kesesuaian antara  sunjek dan objek, yaitu apa yang diketahui subjek dan relaitas sebagaimana adanya. Kebenaran ini juga disebut sebagai kebenaran empiris karena kebenaran suatu pernyataan, proposisi, atau teori ditentukan oleh apakah pernyataan, preposisi, atau teori itu didukung fakta atau tidak. Contoh: “Bumi Itu Bulat.” Hal-hal yang perlu dicatat sehubungan dengan teori ini adalah: Pertama, teori ini sangat ditekankan oleh aliran empirisme yang mengutamakan pengalaman dan pengamatan inderawi sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Kedua.teori ini cenderung mengaskan dualitas antara subjek dan objek, antara sipengenal dan yang dikenal. Ketiga, teori ini sangat menekankan bukti bagi kebenaran suatu pengetahuan. Bukti ini bukan pula hasil imajinasi akal budi, melainkan adalah apa yang diberikan dan disodorkan oleh objek yang dapat ditangkap oleh panca indra manusia.
  2. Teori kebenaran sebagai keteguhan (the coherence theory of truth)
    Menurut teori ini kebenaran ditentukan dalam relasi antara proposisi baru dengan proposisi yang sudah ada. Pengetahuan, teori, pernyataan, proposisi atau hipotesis dianggap benar jika sejalan dengan pengetahuan, teori, proposisi atau hipotesis lainnya. Dengan kata lain penyataan benar jika penyataan itu cocok dengan sistem pemikiran yang sudah ada. Misalnya: (1) Semua manusia pasti mati. (2) Sokrates adalah manusia. (3) Sokrates pasti mati.  Kebenaran (3) hanya merupakan implikasi logis  dari system pemikiran yang sudah ada, yaitu bahwa (1) semua manusia pasti mati. Dan (2) Sokrates adalah manusia. Hal-hal yang perlu dicatat dalam teori ini adalah: Pertama, teori ini lebih menekankan kebenaran rasional-logis dan juga cara kerja deduktif. Kedua, teori ini lebih menekankan kebenaran dan pengetahuan apriori. Ini berarti pembuktian atau justifikasi sama artinya dengan validasi: memperhatikan apakah kesimpulan yang mengandung kebenaran tadi memang diperoleh secara sahih (valid) dari proposisi lain yang telah diterima sebagai benar.
  3. Teori pragmatis tentang kebenaran (the pragmatic theory of truth)
    Bagi kaum pragmatis, kebenaran sama artinya dengan kegunaan. Ide, konsep, pernyataan, atau hipotesis yang benar adalah ide yang berguna. Dengan kata lain, berhasil dan berguna adalah kriteria utama untuk menentukan apakah suatu ide benar atau tidak. Kebenaran yang ditekankan oleh kaum pragmatis ini adalah kebenaran yang menyangkut  “pengetahuan bagaimana”. Suatu ide yang benar adalah ide yang memungkinkan berhasil memperbaiki dan menciptakan sesuatu. Tolok ukur kebenaran suatu ide bukanlah realitas statis, melainkan realitas tindakan.
  4. Teori performatif tentang kebenaran (the performative theory of truth)
    Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar, kalau pernyataan itu menciptakan realitas. Pernyataan yang benar bukanlah pernyataan yang mengungkapkan realitas, tetapi justru dengan pernyataan itu tercipta suatu realitas  sebagaima yang diungkapkan dalam pernyataan itu. Contoh: “Dengan ini saya mengangkat kamu sebagi bupati Bantul.” Dengan pernyataan itu, tercipta suatu realitas baru, realitas kamu sebagai bupati Bantul.

    Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah[7]. Artinya suatu kebenaran tidak mungkin muncul tanpa ada prosedur baku yang harus dilaluinya. Prosedur baku yang harus dilalui itu adalah tahap-tahap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah, yang pada hakekatnya berupa teori, melalui metodologi ilmiah yang telah baku sesuai dengan sifat dasar ilmu. Maksudnya ialah bahwa setiap ilmu secara tegas menetapkan jenis objek yang ketat apakah objek itu berupa hal yang konkrit atau abstrak.  

Definisi Sosiologi

Untuk mengetahui apa itu sosiologi, maka kita akan definisi sosiologi menurut para ahli.

  1. Pitirim Sorokin Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi, gejala keluarga, dan gejala moral), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala non-sosial, dan yang terakhir, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial lain.
  2. Max Weber

Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.

  1. Selo Sumardjan dan Soelaeman Soemardi Sosiologi adalah ilmu kemasyarakatan yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial termasuk perubahan sosial.
  2. Paul B. Horton

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan penelaahan pada kehidupan kelompok dan produk kehidupan kelompok tersebut.

  1. Soejono Sukamto

Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi kemasyarakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum kehidupan masyarakat.

  1. Emile Durkheim

Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

Menurut kelompok sosiologi adalah ilmu yang tidak sekedar mempelajari kehidupan masyarakan baik itu tindakan. pikiran maupun perasaan, melainkan juga merupakan ilmu yang mendeskripsikan hal-hal yang berlatarbelakang kehidupan sosial kemasyarakatan.



  1. Kebenaran Ilmiah dalam Sosiologi.

Secara terminologi sosiologi berasal dari bahasa Yunani, yakni kata socius dan logos. Socius berarti kawan, berkawan, ataupun bermasyarakat. Sedangkan logos berarti ilmu atau dapat juga berbicara tentang sesuatu. Secara harafiah sosiologi dapat diartikan tentang ilmu dalam masyarakat. Tetapi untuk memahami  sosiologi tidaklah sesedarhana itu, sosiologi sebagai disiplin ilmu yang mengkaji tentang masyarakat, cakupannya sangat luas. Untuk itu sosiologi dapat di definisikan  sebagai disiplin ilmu tentang interaksi sosial, kelompok sosial, gejala-gejala sosial, organisasi sosial, struktur sosial, proses sosial maupun perubahan sosial.[8]

Jika di atas telah dijelaskan tentang kebenaran-kebenaran  ilmiah dalam filsafat, lalu bagaimana dengan kebenaran ilmiah dalam sosiologi?  Untuk mencari kebenaran ilmiah dalam sosiologi dibutuhkan paradigma. Menurut Thomas Khun paradigma adalah seperangkat keyakinan yang memandu seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Sedangkan menurut Friedriches mencoba merumuskan pengertian paradigma secara lebih jelas, menurutnya paradigm adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang ilmu pengetahuan[9].

Sejak abad pencerahan hingga era globalosasi, terdapat empat paradigma ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan. Empat paradigma itu antara lain: 1). Positivisme, 2). Post-positivisme (Classical Paradigm atau Conventionalism Paradigm), 3). Critical Theory (Realisme), dan 4).Consructivism[10].

Perbedaan dari keempat paradigm tersebut dapat dilihat dari cara pandang masing-masing terhadap realitas yang digunakan dan cara yang ditempuh untuk melakukan pengembangan   pengetahuan, khususnya pada tiga aspek yang ada didalamnya, yakni aspek-aspek ontologis, epistemology, dan metodologis.

  1. Positivisme
    Keyakinan dasar aliran ini  berakar pada paham ontology realisme yang menyatakan bahwa realitas berada (exist) dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws). Penelitian berupaya mengungkap kebenaran realitas  yang ada dan bagaimana  senyatanya realitas tersebut senyatanya berjalan.  Tokohnya adalah Aguste Comte melalui karyanya The Course of Positive Philosophy (1830-1842), Jhon Stuart Mill  melalui karyanya A System of Logic (1843) dan  Email Durkheim melalui  karyanya, Rules of the Sociological Methods (1895), yang kemudian menjadi rujukan bagi periset ilmu social yang yang beraliran positivism.
    Menurut Durkheim, objek studi sosiologi adalah fakta sosial. Fakta sosial yang dimaksudkan mencakup bahasa, sistem hukum, sistem politik, pendidikan dan lain-lain.  Sekalipun fakta sosial berasal dari luar kesadaran individu namaun oleh periset dalam penelitian positivisme, informasi kebenaran yang kebenaran dinyatakan kepada individu yang dijadikan responden penelitian. Untuk mencapai kebenaran ini periset sebagai seorang pencari kebenaran harus menanyakan lansung kepada objek yang diteliti, dan sang objek dapat memberikan jawaban lansung kepada periset yang bersangkutan. Secara metodologis, seorang periset dituntut untuk menggunakan metodologi eksperimen empirik atau metode lain yang setara. Hal itu dimaksudkan untuk menjamin agar temuan yang diperoleh betul-betul objektif dalam menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

  2. Post-positivisme
    Post-positivisme, kemunculan paradigm ini adalah keinginan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme yang memang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan lansung atas objek yang diteliti. Secara ontology, cara pandang aliran ini bersifat critical realism, realitas sebagai hal yang memang ada dalam kenyataan sesuai dengan hukum alam, namun menurut aliran ini, adalah mustahil bagi manusia (peneliti) untuk melihat realitas secara benar. Oleh karena itu, secara metodologis pendekatan eksperimental melalui observasi dipandang tidak mencukupi, tetapi harus dilengkapi dengan metode triangulasi, yaitu penggunaan beragam metode, sumber data, periset dan teori. Aliran ini juga memandang bahwa secara etimologi hubungan antara periset dan objek yang diteliti tidak bisa dipisahkan. Aliran ini juga menambahkan pendapatnya bahwa suatu kebenaran tidak mungkin bisa ditangkap apabila periset berada dibelakang layar, tanpa terlibat dengan objeknya secara lansung. Aliran ini menegaskan arti penting dari hubungan interaktif antara periset dan objek yang diteliti, sepanjang dalam hubungan tersebut periset bisa bersifat netral.

  3. Teori Kritis
    Secara ontologis, cara pandangan aliran ini sama dengan pandangan post-positivisme, khususnya dalam menilai objek atau realitas kritis, yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. Pada tataran epistemologis, aliran ini memandang hubungan antara periset dan objek sebagai hal yang tidak dapat dipisahkan. Lantaran berkeyakinan bahwa nilai-nilai yang dianut oleh periset ikut serta dalam menentukan kebenaran suatu hal, maka aliran ini sangat menekankan konsep subjektivitasnya dalam menemukan suatu ilmu pengetetahuan.  Secara ontologis, cara pandangan aliran ini sama dengan pandangan post-positivisme, khusunya dalam menilai objek atau realitas kritis yang tidak dapat dilihat secara benar oleh pengamatan manusia. Pada tataran metodologis, aliran ini mengajukan metode dialog sebagai sarana transformasi bagi ditemukannya kebenaran realitas yang hakiki.

  4. Konstruktivisme
    Konstruktivisme, paradigma ini hampir merupakan antithesisme terhadap paham yang menempatkan pentingnya pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas atas ilmu pengetahuan. Secara tegas paham ini menyatakan bahwa positivism dan post-posotivisme keliru dalam mengungkapkan realitas dunia, dan harus ditinggalkan dan digantikan oleh paham yang besifat konstruktif. Secara ontologis, aliran ini menyatakan bahwa realitas itu ada dalam beragam bentuk konstruksi mental yang didasarkan pada pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik serta tergantung pada pihak yang melakukannya. Karena itu, realitas yang diamati oleh sesorang tidak bisa digeneralisasikan kepada semua orang sebagaimana yang biasa dilakukan di kalangan positivism atau post-positivis. Atas dasar filosofi ini aliran ini menyatakan bahwa hubungan epistemology antara pengamat dan objek merupakan satu kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan interaksi diantarakeduanya. Secara metodologis, aliran ini menerapkan metode hermeneutika dan dialektika dalam proses mencapai kebenaran. Metode pertama dilakukan melalui identifikasi kebenaran atau konstruksi pendapat orang per orang, sedangkan metode kedua mencoba untuk membandingkan dan menyilangkan pendapat orang per orang yang diperoleh oleh metode pertama.

            Dari paparan diatas, maka timbul pertanyaan: paradigma manakah yang dianggap paling baik? Tidak satupun paradigma yang sanggup mengungguli yang lain, mengingat setiap paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap realitas yang tergantung pada keadaan tertentu. Dalam ilmu eksata, paham positivism dan post-positivisme mungkin banyak digunakan, sedangkan di ilmu sosial, ciritcal theory atau konstruktivisme mendapat tempat yang lebih mapan.





  1. Kesimpulan

  • Untuk memahami kebenaran ilmiah dalam pengetahuan yang  jelas dari satu objek formal atau cara pandang tertentu dengan metode yang sesuai dan ditunjang oleh suatu sistem yang relevan. Masing-masing teori kebenaran ini mempunyai sifat dasar metodologisnya sendiri, dan satu teori kebenaran tidak bisa dipakai untuk menilai kebenaran yang lain dengan metode yang sama. Karena itu muncul beragam teori kebenaran, ada yang sepakat mengakui empat teori kebenaran (teori kebenaran sebagai peresesuain, teori kebenaran sebagai keteguhan, teori pragmatis tentang kebenarana, teori performatif tentang kebenaran).
  • Masing-masing teori kebenaran mempunyai kelebihan dan kekurangan. Namun secara epistemologi maupun ontologis, tampaknya teori-teori ini dapat mencari jalan keluar dari persoalan yang muncul dari realitas itu sendiri. Hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuan mempunyai aspek etis.
  • Sosiologi dapat dikatakan  mengandung kebenaran ilmiah karena merupakan ilmu yang bersifat empirik.  
  • Kebenaran ilmiah dalam sosiologi disesuaikan dengan waktu dan ruang (konteks).


  1. Kebenaran ilmiah dalam sosiologi disesuaikan (konteks).









     Daftar Pustaka:


Bahm, Archie J. 1980 “What is Science” dalam Axiology: The Science of Values,New Mexico: Word Books Albuquerque.

Keraf, A. Sonny dan Dua, Mikhael, 2011, Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosifis, Yogyakarta: Kanisius.

Salim, Agus, 2001, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta: Tiara Wacana.

Supardan, Dadang, 2008, Pengantar Ilmu Sosial, Sebuah Kajian Pendekatan Struktural, Jakarta: Bumi Aksara.

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM,2010, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan.  Yogyakarta: Liberty.

----------, 2008, Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.



Supardan, H. Dadang. Pengantar Ilmu Sosial Sebuah Kajian Pendekatan Struktural. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.





                [1] Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. [2008], 172
                [2] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Liberty, 2010),  135.
                [3] Ibid, 136-137
                [4] Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa. [2008], 544
                [5]Archie J. Bahm. “What is Science” dalam Axiology: The Science of Values (New Mexico: Word Books Albuquerque, 1980), 14-49
                [6] A. Sonny Keraf dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosifis, (Yogyakarta: Kanisius, 2011),  65-74
                [7] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Ilmu Pengetahuan, 144
                [8] Dadang Supardan, Pengantar Ilmu Sosial, Sebuah Kajian Pendekatan Struktural, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008),hlm 70
                [9] Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001),  63
                [10] Ibid  68-73
Share:

About