Saturday, March 5, 2016

Pemikiran Karl Marx

Pemikiran Karl Marx 
1. Modal, Kaum Kapitalis, dan Kaum Proletariat
Marx menemukan inti kaum kapitalis di dalam komoditas. Masyarakat yang didominasi oleh benda-benda dengan nilai utamanya adalah pertukaran, menghasilkan manusia-manusia kategori tertentu. Dua tipe utama yang diperhatikan Marx adalah kaum ploretariat dan kapitalis. Mari Kita mulai dengan Kaum Ploretariat.
Para pekerja yang menjual tenaga kerja mereka dan tidak memiliki alat-alat produksi sendiri adalah anggota kaum ploretariat. Mereka tidak memiliki peralatan sendiri atau pabrik-pabrik. Marx percaya bahwa kaum proletariat pada akhirnya kehilangan keahlian ketika mereka melayani mesin-mesin yang sudah menggantikan keahlian mereka. Karena aanggota kaum ploretariat berproduksi hanya untuk pertukaran, mereka juga merupakan konsumen. Karena mereka tidak mempunyai alat-alat untuk berproduksi bagi kebutuhan-kebutuhan mereka sendiri, mereka harus menggunakan upahnya untuk membeli kebutuhannya. Akibatnya, untuk dapat bertahan hidup kaum ploretariat bergantung sepenuhnya pada upahnya. Hal ini membuat kaum ploretariat bergantung pada orang-orang yang membayar upah. Orang-orang yang membayar upah adalah kaum kapitalis. Kaum kapitalis adalah orang-orang yang memiliki alat-alat produksi. Sebelum kita dapat memahami kaum kapitalis, pertama-tama kita harus memahami kapitalisme itu sendiri. Kapital (modal) yang menghasilkan uang yang lebih banyak lagi, modal adalah uang yang ditanamkan dari pada digunakan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atau keinginan-keinginan manusia. Perbedaan itu menjadi lebih jelas ketika kita melihat pada apa yang dianggap Marx sebagai titik tolak ”titik tolak modal” (1867/1967:146): Sirkulasi komoditas. Marx mendiskusikan dua tipe sirkulasi komoditas. Satu tipe sirkulasi adalah khas kapital: Uang (Money) – Komoditas (Commodities) – (dengan jumlah yang lebih besar) Uang (Money).
Modal adalah uang yang telah menghasilkan uang yang lebih banyak, tetapi Marx mengatakan yang lebih banyak, dari pada itu: modal juga adalah suatu relasi sosial yang khusus. Uang menjadi modal hanya karena suatu relasi sosial yang khusus. Uang menjadi modal hanya karena suatu relasi sosial di antara, di satu pihak, kaum ploretariat, yang melakukaan pekerjaan dan harus membeli produk, dan, dipihak lain, orang-orang yang telah menanamkan uang itu. Kemampuan modal untuk menghasilkan keuntungan tampak ”sebagai suatu kekuatan yang diberikan oleh Alam  - suatu kekuasan produktif yang selalu ada di dalam modal. Menurut Marx, itu adalah relasi kekuasaan. Modal tidak dapat bertambah kecuali dengan mengeksploitasi orang-orang yang benar-benar melakukan pekerjaan itu. Para pekerja dieksploitasi oleh suatu sistem, ironinya ialah bahwa sistem itu diproduksi melalui tenaga kerja dan para pekerja itu sendiri. Sistem kapitalis adalah struktur sosial yang muncul dari hubungan eksploitatif itu. Para kapitalis adalah orang-orang yang hidup oleh keuntungan modal. Mereka adalah ahli waris eksploitasi kaum proletariat. Di dalam ide modal termuat suatu relasi sosial diantara orang-orang yang mempunyai alat-alat produksi dan orang-orang tenaga kerja upahnya dieksploitasi.[1]

2.  Eksploitasi
            Bagi Marx, ekploitasi dan dominasi lebih dari sekedar distribusi kesejahteraan dan kekuasaan yang tidak seimbang.  Ekspliotasi merupakan suatu bagianpenting dari ekonomi kapitalis.  Tentu saja masyarakat memiliki sejarah eksploitasi, tetapi yang unik dalam kapitalisme adalah bahwa eksploitasi dilakukan oleh sistem ekonomi yang impersonal dan “objekti”.  Kemudian paksaan jarang dianggap sebagai kekerasan, malah menjadi kebutuhan pekerja itu sendiri,  yang biasaterpenuhi hanya melaui upah, secara ironis Marx menggabarkan kebebasan upah kerja ini. 
Untuk menggubah uangnya menjadi kapital ....pemilik uang harus bertemu di dalam pasar dengan buru-buruh bebas, bebas dalam dua pengrtian, dari satu sisi sebagai seseorang yang bebas dia bisa mengatur tenaganya sebagai komoditasnya sendiri,  dan disisi lain sebagai seseorang yang tidak memiliki komoditas lain untuk dijual,  dia kekurangan segala sesuatu yang penting untuk merealisasikan tenaganya.
Para pekerja menjadi”buruh- buruh yang bebas”, membuat kontrak-kontrak bebas dengan para kapitalis.  Namun , Marx percaya bahwa para pekerja tidak lagi mampu memproduksi demi kebutuhan mereka sendiri.  Hal ini benar khususnyakarena biasanya kapitalisme menciptakan apa yang disebut Marx sebagai”tentara cadangan” dari pengagguran yang mau melakukanya.  Inilah misalnya yang ditemukan Barbara Ehrenreich sebagai tujuan iklan lowongan kerja berupah yang rendah.
            Kapitalisme membayar para pekerja kurang dari nilai yang mereka hasilkan dan meraup keuntungan untuk diri mereka sendiri. Hal ini membawa kita pada konsep sentral tentang nilai-nilai suplus.  Nilai surplus di didefinisikan sebagai perbedaan antara nilai produksi ketika dijual dan nilai elemen-elemen yang digunakan untuk membuat poduk tersebut (termasuk kerja para pekerja).  Kaptalisme biasanya menggunakan keuntungan ini untuk konsumsi pribadi, akan tetapi hal tersebut belum mengakibatkan ekspansi kapitalisme.  Kapitalis melebarkan perusahaa mereka dengan menggubah nilai-surplus itu menjadi modal yang akan menghasilkan nilai-nilai surplus yang lebih banyak. Marx memberiakan sebuah ibarat, tentang hal ini” kapitalisme merupakan kerja mati, seperi vampir, yang hiup dengan menhisap kehidupan kerja, dan makan dia hidup, makin banyak kerja yang dihisapnya”
            Marx menggemukakan poin penting lainya tentang kapital” kapital eksis dan hanya bisa eksis sebagai kapital-kapital.  Maksudnya disini adalah bahwa kapitalisme selalu di dorong oleh kompetisi yang tiada henti. Kapitalisme mungkin terlihat terkontrol, meskipun mereka didorong oleh kompetisi yang konstan antara kapital-kapial. Kapital dipaksa untuk memperoleh  lebih banyak keuntungan demi mengakumulasikan dan menginvestasikan lebih banyak kapital. “ begitulah, kapitalis sama dengan si kikir dalam sebuah hal yang absolut, yakni memperkaya diri sendiri. Namun yang terlihat pada si kikir sebagai kegilaan individu, maka dalam kapitlis terlihat terliha sebagai efek dari mekanisme sosial yan roda penggeraknya adalah dirinya sendiri.
            Keingginan untuk memperoleh lebih banyak keuntungan dan lebih banyak nilai surplus untuk ekspansi, mendorong kapitalisme pada apa yang disebut Marx denagan hukum-hukum akumulasi kapital. Kapitalis berusaha mengesploitasi pekerja semaksimal mungkin:  tertendensi konstan kapitalis adalah untuk memaksaonkos kerja kembali..ke angka Nol”.  Marx berpendapat bahwa struktur dan etos kapitalisme mendorong kapitalis dalam mengarahkan akumulasi pada penumpukan kapital yang lebih banyak lagi.  Unutk melakukan hal ini, berdasarkan pandangan Marx bahwa kerja merupakan sumber nilai, kapitalis digiring untuk meningkatkan eksploitasi terhadap proletariat. Inilah yang mendorong terjadinya konflik kelas.

3. Materialisme Historis Marx
The communist Manifesto (1848), adalah suatu karya besar yang ditandai dengan slogan-slogan politik (misalnya kaum buruh bersatulah). Suatu penilaian atas peradaban kapitalis yang ambivalen yaitu peradaban yang menjadikan sesuatu menjadi mungkin dan menyingkirkan realisasi diri, potensi kemanusiaan. Das Capital, ditulis dalam 3 jilid, dan jilid pertama diterbitkan pada tahun 1867 dan kedua jilid lainnya setelah Marx meninggal. Tulisan ini meruapakan gamabaran kegagalan revolusi politik tahun 1848, dimana akhirnya Marx menarik diri dari aktivitas revolusioner dan beralih ke kegiatan penelitian tentang kapital. Marx menjadi sangat terkenal atas karya ini dan menjadi pimpinan The International sebuah gerakan  buruh internasional dan sangat aktif mencurahkan perhatian pada gerakan ini. Menurut Marx kontradiksi harus terjadi di tingkat sejarah yang bertolak dari materi (bukan sejarah idea), dengan mengambil kekuatan dari Imanuel Kant dan Hegel yaitu mengenai model kontradiksi, dialektika, dan sejarah. Dalam gambaran karikatural “historis Idealisme” ia hal itu bagaikan orang yang berjalan dengan kepalanya, sehingga kaki-kakinya tidak pernah menyentuh bumi. Berbeda dengan materialisme historis, adalah manusia yang sempurna ia berjalan dengan kakinya (kakinya benar-benar menyentuh bumi). Menurut Marx, ide jauh dari bumi sedangkan materi menjejakkan kakinya di bumi, jadi sebenarnya yang mengubah masyarakat dari waktu ke waktu itu adalah materi.[2] Dasar atau fundamen masyarakat terletak dalam kehidupan materilnya. Dengan bekerja manusia menghasilkan (berproduksi) untuk dirinya sendiri dan untuk masyarakat. Karena pada dasarnya manusia itu produkti, artinya untuk bertahan hidup manusia perlu bekerja di dalam dan dengan alam dengan bekerja seperti mereka mendapatkan makanan, pakaian, perumahan, dan kebutuhan lain yang memungkinkan mereka hidup. Produktivitas mereka bersifat alamiah, yang memungkinkan mereka mewujudkan dorongan kreatif mendasar yang mereka miliki. Dorongan ini yang mewujudkan mereka bersama dengan orang lain. Dengan kata lain manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial. Mereka perlu bekerjasama untuk menghasilkan segala sesuatu yang mereka perlukan untuk hidup.[3] Konsep Materialistis Marx yang diterapkan pada perubahan sejarah untuk pertama kalinya dijelaskan dalam The German Ideology, disusun oleh Engeles. Tema pokok dalam karya ini adalah bahwa perubahan-perubahan dalam bentuk-bentuk kesadaran, ideologi-ideologi, atau asumsi-asumsi filosofis mencerminkan bukan menyebabkan perubahan-perubahan dalam kehidupan sosial dan materil manusia.[4]

4. Kelas Sosial dan Kesadaran Kelas
Kapitalisme adalah sistem ekonomi dimana sejumlah besar pekerja yang hanya memiliki sedikit hak milik, memproduksi komoditas-komoditas demi keuntungan sejumlah kecil kapitalis yang memiliki hal-hal berikut: komoditas-komoditas, alat-alat produksi, dan bahkan waktu kerja pada pekerja karena membeli para pekerja tersebut melalui gaji. Namun, salah satu pengertian sentral Marx bahwa Kapitalisme lebih dari sekedar sistem ekonomi. Paling penting lagi, kapitalisme adalah sistem kekuasaan. Rahasia kapitalisme adalah bahwa kekuatan-kekuatan politis telah diubah menjadi relasi-relasi ekonomi (Wood, 1995). Parakapitalis bisa memaksa pekerja dengan kewenangan mereka untuk memecat dan menutup pabrik-pabrik. Karena hal inilah, para kapitalis bebas untuk menggunakan paksaan yang kasar. Maka kapitalisme tidak hanya menjadi sekedar sistem ekonomi, pada saat yang sama, kapitalisme juga merupakan sistem politis, suatu cara menjalankan kekuasaan, dan suatu proses eksploitasi atas para pekerja. Dibawah kapitalisme, ekonomi tampil kepada kita sebagai kekuatan alamiah. Parapekerja diberhentikan, upah dikurangi, pabrik-pabrik ditutup, itu semua karena ekonomi. Kita semua tidak melihat semua ini sebagai keputusan-keputusan sosial dan politis. Hubungan-hubungan antara penderitaan manusia dan struktur2 ekonomi dianggap tidak relevan. Tujuan Marx adalah untuk memperjelas aspek sosial dan politis dari ekonomi dengan memperlihatkan  “hukum gerak ekonomi masyarakat modern”, selain  itu Marx juga ingin memperlihatkan kontradiksi internal yang akan mengubah kapitalisme.[5]
Marx sebenarnya menginginkan suatu keadaan masyarakat seperti pemikir sosialis utopian tentang suatu masyarakat yang hidup tanpa kelas. Untuk itu ia lebih memikirkan upaya untuk membantu mematikan kapitalisme. Ia yakin bahwa kontradiksi dan konflik dalam kapitalisme akan menyebabkan kehancuran. Oleh karena itu untuk menciptakan sistem sosialisme orang harus bertindak pada waktu dan cara yang tepat, karena di sisi lain kapitalisme memiliki sumber daya yang kuat dalam mencegah munculnya sosialisme. Menurut Marx kapitalisme dapat dikuasai jika kaum proletariat dapat melakukan tindakan secara bersama mewujudkan suatu sistem sosialisme yang dalam pengertian masyarakat dimana orang mula-mula akan mendekati citra ideal. Walaupun dengan bantuan teknologi modern dalam masyarakat yang ideal itu tetap berinteraksi dengan alam dan orang lain secara selaras untuk menciptakan segala sesuatu yang mereka butuhkan dalam hidup. Dengan kata lain, dalam masyarakat manusia tidak lagi teralienasi.[6] Jadi “dalam ekonomi politik kita bisa menemukan anatomi masyarakat sipil “. Struktur ekonomi masyarakat merupakan “fondasi riil yang menjadi dasar pendirian bangunan yuridis dan politik, serta menjadi jawaban atas bentuk-bentuk kesadarn sosial yang telah ditentukan” bukan kesadaran manusia yang menentukkan eksistensinya, malahan sebaliknya “eksistensi sosialnya yang menentukan kesadaran mereka”.[7]

5.      Agama
            Marx juga melihat agama sebagai sebuah ideologi.  Dia merujuk pada agama sebagai candu masyarakat.  Marx percaya bahwa agama, seperti halnya ideologi, merefleksikan suatu kebenaran, namun terbalik.  Karena orang-orang tidak bisa melihat bahwa kesukaran dan ketertindasan mereka diciptakan oleh sistem kapitalis, maka mereka diberikan suatu bentuk agama.  Marx dengan jelas menyatakan bahwa dia tidak menolak agama, pada hakikatnya, melainkan menolak suatu sistem yang mengandung ilusi-ilusi agama. Bentuk keagamaan ini mudah di kacaukan dan oleh karena itu selalu berkemungkinan untuk menjadi dasar suatu gerakan revolusioner.  Kita juga melihat bahwa gerakan-gerakan keagamaan sering berada garda depan dalam melawan kapitalisme (lihat,misalnya, teologis pembebasan).

6.  Komunisme dan Sosialisme
Istilah sosialisme selalu identik dengan sosok Karl Marx. Padahal pemikiran tentang sosialisme terlampau jauh berkembang sejak abad ke V – sebelum Marx mulai memikirkan recolusi proletariat. Pemikiran Marx sendiri tentang sosialisme sebenarnya sudah termaktub dalam beberapa karya dan budaya Yunani kuno – meskipun terbatas pada objek dari sosialisme itu sendiri. sosialisme untuk semua digagas oleh Jambulos dan Euhemeros. Jambulos mendeskripsikan sebuah ‘negara matahari’ dimana segala-galanya – termasuk para isteri – dimiliki bersama.
Kata ‘sosialisme’ sendiri mucul di Prancis sekitar tahun 1830, begitu juga ‘komunisme’. Kedua kata ini pada awalnya memiliki makna yang selaras, namun ‘komunisme’ segera dipakai oleh golongan sosialis radikal, yang menuntut penghapusan total hak milik pribadi dan kesamaan konsumsi serta mengharapkan keadaan komunis itu dari kebaikan pemerintah, melainkan semata-mata dari perjuangan kaum terhisap sendiri (Frans. 2003:14). Sosialisme pada abad pertengahan memiliki motif-motif yang erat dengan nilai-nilai religius tertentu, yaitu Kristen. Terutama dalam pertimbanhan tentang penyambutan Kerajaan Allah, Orang harus bebas dari keterikatan.
Sedangkan memasuki zaman pencerahan, perkembangan paham sosialisme tidak mampu berkembang pesat. Hal ini disebabkan dominasi golongan borjuasi yang menuntut kebebasan politik supaya dapat bebas berusaha dan berdagang untuk kepentingan milik pribadi – sebesar dan sebebas mungkin. Sejak bergulirnya Revolusi Prancis (1789-1795), sosialisme memasuki era modern dalam perkembangannya. Keyakinan dasar para pemimpin sosialis modern adalah, secara prinsipil produk pekerjaan merupakan milik si pekerja. Milik bersama dianggap tuntutan akal budi. Mereka meyakini bahwa masyarakat akan berjalan jauh lebih baik kalau tidak berdasarkan milik pribadi.
Sejalan dengan perkembangan sosialisme, paham komunisme sebagai ‘sosialisme radikal’ pun berkembang mengiringi perkembangan induknya. Sejarah perkembangan kedua pemikiran ini – sampai saat ini – seolah mengerucut pada pergolakan yang terjadi di belahan Eropa, khusunya Uni Soviet – sekarang Rusia. Diantara tokoh-tokoh yang memiliki dominasi penuh atas kedua pemikiran ini adalah Karl Marx, Engels, Stalin, dan George Lukaes. Oleh karena itu, untuk memahami perkembangan pemikiran sosialis dan komunis, penulis menitik beratkan kajian pada perkembangan pemikiran Marx, Engels, dan Stalin. Sedangkan untuk memperkuat pengaruh pemikiran sosialisme dan komunisme modern, tulisan George Lukaes yang berjudul History and Class Conciousness (1923) tentunya tidak dapat ditinggalkan. 

      7. Kegiatan dan Alienasi
Inti seluruh teori Marx adalah proposisi bahwa kelangsungan hidup manusia serta pemenuhan kebutuhannya tergantung pada kegiatan produktif di mana secara aktif orang terlibat dalam mengubah lingkungan alamnya. Namun, kegiatan produktif itu mempunyai akibat yang paradoks dan ironis, karena begitu individu mencurahkan tenaga kreatifnya itu dalam kegiatan produktif , maka produk-produk kegiatan ini memiliki sifat sebagai benda obyektif yang terlepas dari manusia yang membuatnya.
Tentang alienasi menurut Marx merupakan akibat dari hilangnya kontrol individu atas kegiatan kreatifnya sendiri dan produksi yang dihasilkannya. Pekerjaan dialami sebagai suatu keharusan untuk sekedar bertahan hidup dan tidak sebagai alat bagi manusia untuk mengembangkan kemampuan kreatifnya. Alienasi melekat dalam setiap sistem pembagian kerja dan pemilikan pribadi, tetapi bentuknya yang paling ekstrem ada di dalam kapitalisme, dimana mekanisme pasar yang impersonal itu, menurunkan kodrat manusia menjadi komoditi, dilihat sebagai satu pernyataan hukum alam dan kebebasan manusia. bentuk ekstrem alienasi itu merupakan akibt dari perampasan produk buruh oleh majikan kapitalisnya.
Marx menekankan bahwa alienasi kelihatannya benar-benar tidak dapat dielakkan dalam pandangan mengenai kodrat manusia yang paradoks. Di satu pihak manusia menuangkan potensi manusiawinya yang kreatif dalam kegiatannya, dilain pihak, produk-produk kegiatan kreatifnya itu menjadi benda yang berada di luar kontrol manusia yang menciptakannya yang menghambat kreativitas mereka selanjutnya.
Bagi Marx alienasi akan berakhir, bila manusia mampu untuk mengungkapkan secara utuh dalam kegiatannya untuk mereka sendiri, sehingga ekspolitasi dan penindasan tidak menjangkiti manusia lagi.



[1] George Ritzer, Teori Sosiologi, Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern,Yogyakarta 2012
[2]  Agus Salim, Perubahan Sosial : Sketsa Teori, Refleksi Metodologi dan KasusIndonesia,Yogyakarta : PT Tiara Wacana, 2002, hlm  29.
[3]  George Ritzer dan Douglas J.Googman, Teori Sosial Modern,Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007, hlm 31.
[4]  Roberth M.Z. Lawang, Teori Sosiologi Klasik Modern,Jakarta : Pt Gramedia, 1988, 130.
[5]  Ibid, 58-59
[6]  Ibid, 34
[7]  Anthony Giddens, Daniel Bell, Michael Forse,dkk. Sosiologi (Sejarah dan Berbagai Pemikirannya),Yogyakarta,  Kreasi Wacana,2004, hlm 23.
Share:

0 comments:

Post a Comment

About