Saturday, October 10, 2015

SEJARAH ILMU-ILMU SOSIAL


Istilah Ilmu Sosial mencakup banyak disiplin ilmu, karena itu disebut Ilmu-Ilmu Sosial. Istilah social science muncul 1824 dalam buku An Inquiry into the Principles of the Distribution of Wealth Most Conducive to Human Equality of Wealth oleh William Thompson (1775-1833) Yang menjadi obyek studi Ilmu-Ilmu Sosial ialah manusia dalam interaksinya di dalam masyarakat, manusia dalam kebudayaannya, manusia dalam lingkungan hidupnya.
Obyek Studi Ilmu-Ilmu Sosial telah menjadi bahasan  para pemikir jauh sebelum adanya Ilmu-Ilmu Sosial mencapai kedudukan otonominya dalam dunia keilmuan pada abad 18 dan 19. Pada zaman Yunani Klasik, dalam tulisan  Stoaisme, antara lain Panaetius membangun teori keadilan sosialnya berdasarkan keteraturan kosmos, Plato (427-347 SZB), bukunya  The Republic), dan Aristoteles (384-322 SZB) bukunya Nicomachean Ethics.

Pada zaman Scholastik, Agustinus (354-430), bukunya The City of God.
Pada Abad Pertengahan, Abelardus, Erigena, St Anselmus, dan John dari Salisbury menulis beberapa komentar tentang analisis ekonomi; Thomas Aquinas  (abad 13) menulis tentang: sosiologi politik, ekonomi. Di samping itu, dalam peradaban Islam, tampil Al-Biruni (973-1048) yang mengadakan studi perbandingan  tentang manusia, agama, dan budaya di Timur Dekat, Timur Tengah, dan Afrika
Ibn Khaldun (1332-1406) menulis tentang demografi, historiografi, filsafat sejarah, sosiologi, dan ekonomi.


Pada zaman Modern Awal Pada abad 14, Buridanus dan Oresmius menulis tentang uang; Pada abad 15 St Atonine dari Florence menulis tentang proses ekonomi; Abad 16 Leonard de Leys, Juan de Lego, dan Luis Molina menulis berbagai topik tentang ekonomi dalam hubungan dengan fungsi kekayaan  untuk kepentingan publik; Abad 17 tampil, antara lain, Thomas Hobbes dan John Locke yang menulis tentang masyarakat dan penguasa.

Pada abad ke 18 Ilmu sosial disebut filsafat moral (dipertentangkan dengan filsafat kealaman dan matematika) dan seorang guru besarnya ialah Adam Smith; Tokoh terkemuka antara lain: Rousseau, William Godwin, dan Giambattista Vico.

Pada abad ke awal 18, semua ilmu pengetahuan menggunakan penalaran deduktif sebagai satu-satunya metodologi yang layak untuk menghasilkan pengetahuan keilmuan. Akan tetapi dalam abad ini pula terjadi perubahan yang menentukan perkembangan metodologi keilmuan selanjutnya, khususnya dengan muncul teori Isaac Newton di bidang fisika.  Menurut Newton dalam proses membangun teori keilmuan, kita mulai dengan pengamatan terhadap obyek. Dari hasil pengamatan kita membangun kesimpulan berupa hipotetis, lalu secara deduktif kita menguji hipotese pada pengamatan terhadap obyek yang sejenis yang lain, bila hasil pengamatan masih tetap sama, maka kita bangun teori. Newton berpendapat bahwa logika matematika merupakan metode berpikir yang sesungguhnya, kepastiannya terjamin bila dibandingkan hasil penginderaan kita. “He regards the mathematical mode of thought ...as true method of thought...”. (Harald Hoffding, a history of modern philosophy, 411).  Selanjutnya, Disiplin keilmuan pada umumnya mendapat “tekanan”  untuk mengekspresikan ide-ide mereka dalam bentuk relasi-relasi matematis (hukum-hukum matematika)

Aguste Comte (1797-1857) memunculkan pandangan bahwa idea-idea melewati tiga fase: Theological (assumption), Philosophical(critical thinking), dan Scientific (positive observation). Menurut Comte, positifisme menekankan sisi faktual dan bukan spekulatif, manfaat dan bukan kesia-sian, kepastian dan bukan keragu-raguan, ketepatan bukan kekaburan, positif bukan negatif maupun kritis.

Selanjutnya kita tidak menelusuri sejarah setiap disiplin ilmu pengetahuan dalam rumpun ilmu-ilmu sosial, kecuali sosiologi. Namun perlu dicatat bahwa semua disiplin ilmu dalam rumpun ilmu-ilmu sosial (sejarah, ekonomi, sosiologi, politik, geografi, psikologi, antropologi) mencapai otonomi keilmuannya secara akademis pada abad ke 19.

Akselarasi perkembangan ilmu pengetahuan dan otonomi berbagai disiplin ilmu, akibat gerakan fajar budi (Enlightenment) yang terjadi pada abad ke 18.   “Embrio”nya telah dimulai pada pada abad ke 14 (Renaissance). “The epoch of the Enlightenment, the eighteenth century, represents the end of the metaphysical speculation of the eighteenth century” (Juan Marias, 1967). Selain itu didorong pula Revolusi Industri dan Revolusi Perancis.
Menurut Ritzer dan Goodman kondisi sosial  yang mendorong  berkembangnya sosiologi, abad 19 dan awal abad 20, adalah:
Revolusi Politik (Perancis, 1789), Revolusi Industri, Kelahiran Sosialisme, Feminisme, Urbanisasi, Perubahan di wilayah Agama, Tumbuhnya Ilmu Pengetahuan.
Sementara di bidang Intelektual: Pencerahan dan Reaksi kaum Konserfatif terhadap Pencerahan.
Share:

Thursday, October 8, 2015

TUGAS PERKEMBANGAN MASA DEWASA AWAL

Sesungguhnya telah banyak teori yang melahirkan konsep tugas perkembangan masa dewasa awal, namun konteks sosiokulturnya berbeda dengan masyakat Indonesia. Belum banyak yang mengungkap sifat khas tugas perkembangan bagi masa dewasa awal di dunia kita. Perlu kedepan ada penelitian-penelitian yang dapat menyesuaikan antara teori yang telah ada di negara maju dengan konsepsi praktis khususnya di Indonesia.  Sehingga akhirnya "kelop" denggan kondisi sosio kultur masyarakat Indonesia, syukur ada temuan-temuan baru yang menjadi teori perkembangan sesuai dengan masyarakat kita.
Arti tugas-tugas perkembangan bagi orang dewasa awal, pada pokokya mengandung isi-isi harapan atau tuntutan dari sosio kultur yang hidup pada lingkungan sekitar terhadap orang dewasa awal sesuai dengan tingkat perkembangan yang telah dicapainya.
Sejak seseorang telah menyandang status dewasa, dirinya diharapkan siap menerima kewajiban dan tanggung jawab kedewasaannya, yang ditunjukkan dengan pola-pola tingkah laku wajar seperti yang berlaku pada kebudayaan sekitarnya.
R.J Havighurst (1953), telah mengemukakan rumusan tugas-tugas perkembangan dalam masa dewasa awal sebagai berikut :
  • Memilih teman bergaul (sebagai calon suami atau istri)
  • Belajar hidup bersama dengan suami atau istri
  • Memulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga
  • Belajar mengasuh anak-anak
  • Mengelola rumah tangga
  • Mulai bekerja dalam suatu jabatan
  • Mulai bertanggung jawab sebagai warga negara secara layak
  • Memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilai-nilai pahamnya.
Sedangkan 
Satu diantara hal yang sangat penting sehubungan dengan materi tugas-tugas perkembangan ini adalah bahwa tugas-tugas perkembangan tersebut di atas merupakan dasar bagi penguasaan tugas-tugas perkembangan dalam usia-usia selanjutnya. Mereka yang dapat menguasai tugas-tugas perkembangan dalam usia dewasa awal secara utuh, akan sangat berpengaruh terhadap kemudahannya menguasai tugas-tugas perkembangan dalam masa setengah baya.
Share:

Wednesday, October 7, 2015

Focus Group Discussion

Focus Group Discussion atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan istilah Kelompok Diskusi Terfokus merupakan metode yang populer dan banyak digunakan dalam riset kualitatif dalam ilmu-ilmu sosial. Meskipun dikembangkan sekitar 75 tahun yang lalu, namun metode ini tidak begitu dikenal sampai kebangkitannya lagi sebagai metode yang mendapat banyak ketertarikan akhir tahun 1970. Metode ini menjadi populer dalam bidang psikologi dalam dekade terakhir, yaitu ketika riset kualitatif mulai berkembang dan semakin dapat diterima diantara dominasi disiplin kuantitatif.
Penggunaan focus Group Discussion (FGD) pertama kali dapat dilacak pada tahun 1920-an, yaitu ketika psikolog Emory Bogardus dan Walter Thurstone menggunakannya dalam rangka pengembangan instrumen. Meskipun kemudian "penemuan" mereka tersebut lebih sering dihubungkan dengan sosiolog Robert Merton serta dua koleganya Patricia Kendall dan Marjorie Friske tahun 1940-an. Tim riset Merton mengembangkan 'wawancara-kelompok terfokus' untuk mengungkap informasi dari para pendengar mengenai tanggapan mereka terhadap program-program radio. Sejak itu, teknik mereka dikenal(secara beragam) sebagai "wawancara kelompok" atau wawancara focus group, istilah "focus Group" paling sering digunakan untuk membedakannya dengan pendekatan dari berbagai bentuk proses kelompok yang lebih berorientasi psikodinamika.
Metodologi focus Group, sepintas lalu, sepertinya sederhana. Focus Group adalah suatu cara mengumpulkan data kualitatif. Pada esensinya focus Group melibatkan beberapa orang dalam jumlah kecil pada suatu diskusi kelompok informal. Focus Group "memfokuskan" pada topik tertentu atau beberapa isu.
Diskusi kelompok informal biasanya dilakukan berdasarkan pada beberapa pertanyaan ("jadual focus group). Peneliti secara umum bertindak sebagai "moderator" : melontarkan berbagai pertanyaan, menjaga agar diskusi tetap mengalir, dan mendorong para peserta agar berpartisipasi secara penuh. Meskipun focus group terkadang dimaknai sebagai "wawancara kelompok", namun Moderator tidak menyampaikan pertanyaan pada masing-masing pertisipan secara bergiliran-Moderator, cenderung hanya memfasilitasi diskusi kelompok, kemudian secara aktif memberikan dorongan pada para anggota kelompok agar saling berinterakti. Interaksi antarpartisipan penelitian ini merupakan ciri utama dari riset focus group - dan yang menjadi pembeda dengan wawancara satu persatu.

Dibandingkan dengan wawancara, focus group bersifat "naturalistik" (yaitu lebih mendekati perbincangan keseharian). Mereka biasanya memunculkan proses komunikasi yang cukup beragam-misalnya bercerita, bercanda, berargumentasi, omong-kosong, menyindir, persuasi, menantang, dan menampilkan ketidasetujuan. Kualitas dinamika interaksi kelompok yaitu ketika para partisipan berdiskusi, berdebat dan (terkadang) berbeda pendapat tentang permasalahan pokok, pada umumnya merupakan ciri yang paling menonjol dari focus group.

Biasanya, diskusi focus group direkam secara auditif dan data yang ada ditranskripsidan kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik konvensional untuk data kualitatif. Paling sering digunakan analisis isi atau analisis tematik. Dengan demikian focus group dapat dibedakan dengan yang lain dalam hal metode dan jenis pengumpulan data (yaitu dengan menggunakan diskusi kelompok informal). Tidak bbanyak terdapat perbedaan dalam metode analisis data dalam focus group discussion.
Alasan satu alasan atas popuralitas riset focus group adalah fleksibilitas dalam metode yang digunakan. Focus group dapat digunakan sebagai metode kualitatif yang berdiri sendiri, atau dikombinasikan dengan teknik-teknik kuantitatif sebagai bagian proyek multimetode. Metode ini dapat diterapkan dalam laboratorium psikologi ataupun di lapangan. Focus Group dapat digunakan untuk meneliti dunia sosial atau berupaya mengubahnya-yaitu dalam proyek riset tindakan. 
 
Sebuah proyek focus group dapat melibatkan satu kelompok partisipan yang mengadakan pertemuan sekali, atau dapat juga melibatkan beberapa kelompok dalam satu atau beberapa kali pertemuan. Focus group dapat melibatkan dua, atau selusin partisipan (biasanya antara empat sampai delapan). Para partisipan tersebut dapat berasal dari latar belakang kelompok yang sebelumnya memang sudah ada (misalnya anggota keluarga, klub, atau tim-kerja).Dapat juga mereka dikumpulkan secara khusus dalam rangka riset, sebagai perwakilan dari suatu populasi tertentu, atau semata-mata hanya berdasarkan pada karakteristik atau pengalaman yang sama (sebagai contoh, para pria paruh-baya, asisten penjualan, atau para penderita tekanan premenstrual).
Selain seperangkat pertanyaan, moderator dapat menyajikan stimulus material pada para anggota kelompook (misalnya video-clip dan iklan). Disamping mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan tertentu, mereka dapat diminta untuk melaksanakan suatu aktivitas tertentu (misalnya memilah-milah kartu atau mengerjakan skala penilaian). Moderator dapat berlaku direktif (langsung) atau relatif non-direktif. Proses dapat direkam secara audio maupun video (secara audio lebih umum digunakan dalam riset ilmu sosial).

Jenis analisis yang digunakan tergantung pada kerangka teoritis peneliti, bukan pada ciri-ciri tertentu dari data focus group. Salah satu kekuatan dari riset focus group adalah tidak terikatnya pada suatu kerangka teoritis tertentu. Metode ini dapat dipergunakan baik dengan kerangka "esensialis" maupun "konstruksionis sosial". Riset focus group yang dilakukan dalam rangka esensialis seperti pada hampir semua riset psikologi, mendasarkan pada asumsi bahwa individu memiliki gagasan-gagasan, opini, dan pemahaman mereka sendiri secara pribadi. Tugas dari peneliti adalah mengakses atau mendapatkan "kognisi" tersebut. Dalam kerangka tersebut, keuntungan utama focus group adalah komprehensif dalam mengungkapkan gagasan-gagasan, opini, dan pemahaman individu, dibandingkan dengan ketika menggunakan wawancara satu-persatu (lebih komprehensif dalam artian bahwa para ko-partisipan dapat memicu memori, menstimulasi debat, memfasilitasi pengungkapan, dan secara umum mendorong produksi cerita yang panjang lebar).

Peneliti dapat mengamati bagaimana pandangan dibangaun, diekspresikan, dipertahankan, dan (terkadang) dimodifikasi dalam konteks diskusi dan saling berdebat.  Kerangka teoritis penelitian akan mempengaruhi analisis data yang akan diterapkan.
Focus Group Discussion merupakan pilihan tepat ketika tujuan penelitian adalah hendak mengungkap pemahaman, opini, atau pandangan orang (perlu dicatat bahwa hal demikian merupakan pertanyaan penelitian esensialis). 
Focus group juga dipakai ketika suatu penelitian hendak mengungkapkan bagaimana semua itu berkembang, dielaborasi, dan dinegosiasikan dalam suatu konteks sosial.

Setelah anda memahami tentang Focus Group Discussion sekarang kita akan beranjak kepada panduan praktis dalam melaksanakan focus group.

Untuk beberapa focus group, guna mendapatkan data dengan baik (dan untuk menghasilkan pengalaman yang bermanfaat bagi para partisipan, suatu outcome yang juga akan menghasilkan data yang lebih baik), paling tidak dibutuhkan dua hal: moderator yang efektif dan sesi yang benar-benar dipersiapkan. 
Yang perlu diperhatikan bagi moderator focus group adalah 
  • memiliki ketrampilan wawancara, 
  • pengetahuan mengenai dinamika kelompok dan 
  • pengalaman memimpin suatu diskusi kelompok. 

Selain itu moderator perlu mempunyai ketrampilan untuk mendorong orang yang malu berbicara didepan umum dan mampu mengendalikan orang yang terlalu mendominasi pembicaraan dalam kelompok diskusi.  Biasanya kesalahan yang sering dilakukan oleh moderator yang belum berpengalaman adalah kesalahan mendengarkan dan menyimak dengan benar: ketidakmampuan untuk bersabar menghadapi kesunyiaan, terlalu banyak bicara, dan menyampaikan pertanyaan yang beruntun.
Anjuran bagi moderator adalah perlu mengadakan persiapan dan latihan atau dianjurkan melakukan penelitian pendahuluan secara penuh sebagai latihan. Persiapan yang memadai dan perencanaan yang efisien sebelum melaksanakan sesi focus group tidak kalah penting untuk mendapatkan data berkualitas tinggi. Dibutuhkan sejulah besar pekerjaan persiapan sebelum, sewaktu dan setelah sesi yang bersangkutan. 
Berikut pertimbangan praktis pokok dalam penataan proyek focus group yang efektif.

Isu Desain
Pertama-tama, harus menentukan parameter umum penelitian, yaitu keseluruhan skala waktu; seberapa banyak focus group yang akan dijalankan; seperti apa jenis focus group tersebut nantinya; jumlah dan jenis partisipan yang akan dimiliki (juga bagaimana merekrutnya); dan bagaimana akan melakukan perekaman, transkripsi, dan analisis data. 

Isu Etika
Riset focus group seperti riset psikologi lainnya, harus dilaksanakan menurut panduan etika tertentu dari badan profesional terkait. Secara umum dikatakan bahwa harus ada ijin dan persyaratan etis dari institusi yang menangungi (seperti universitas atau komite etika subjek manusia). juga diperlukan ijin dari institusi tempat melakukan pengumpulan data (misalnya komite etis Health Authority atau National Health Service Trust), serta pihak-pihak lain yang terkait. Harus mendapatkan surat kesediaan untuk ikut terlibat dalam penelitian dari partisipan. Bertanggung jawab terhadap kerahasiaan mereka, dan harus mengambil langkah-langkah guna menjamin bahwa mereka tidak akan menjadi korban berbagai tekanan atau kecemasan melebihi apa yang mungkin mereka alami dalam kehidupan mereka sehari-hari.




 
Share:

Sunday, October 4, 2015

MASA DEWASA AWAL

Masa Dewasa Awal
Menurut Elizabeth Hurlock, Masa Dewasa Awal atau early Adulthood terbentang sejak tercapainya kematangan secara hukum sampai kira-kira usia empat puluh tahun(dialami seorang sekitar dua puluh tahun).

Sedangkan ciri-ciri masa dewasa awal : 
Banyak diantara ciri penting dalam masa dewasa awal ini merupakan kelanjutan dari ciri-ciri yang terdapat dalam masa remaja. Beberapa diantaranya menunjukkan penonjolan ciri yang membedakan dengan masa-masa sebelumnya itu. Dengan keadaan individu dalam masa remaja; apa yang telah dimilikinya sebagai hasil belajar dan pengalamannya, dilengkapi dalam masa dewasa awal. 
Ciri-ciri yang menonjol dalam masa dewasa awal yang membedakannya dengan masa kehidupan yang lain, nampak dalam adanya peletakan dasar dalam banyak aspek kehidupannya, melonjaknya persoalan hidup yang dihadapi dibandingkan dengan remaja akhir dan terdapatnya ketegangan emosi. Namun demikian, diatas semua ciri yang ada dalam masa dewasa awal ini, hal penyesuaian diri merupakan hal yang utama. H.S. Becker, dalam Personal Changes in Adul Life (1964) menyatakan bahwa : dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian terhadap pola-pola kehidupan baru, dan harapan-harapan sosial yang baru. Manusia dewasa muda diharapkan memainkan peranan-peranan dalam hal-hal sebagai suami/istri, orang tua dan sebagai pemimpin rumah tangga, serta mengembangkan sikap-sikap, minat-minat dan nilai-nilai dalam memelihara peranan-peranan yang baru tersebut.
Sebagai kelanjutan masa remaja, masa dewasa memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Usia reproduktif atau "Reproductive Age"
  2. Usia memantapkan letak kedudukan atau "Settling down Age"
  3. Usia banyak masalah atau "Problem Age"
  4. Usia tegang dalam hal emosi atau "Emotional Tension"
Usia Reproduktif
Bagi sebagian besar orang-orang dewasa muda, menjadi orang tua atau sebagai ayah/ibu merupakan satu di antara peranannya yang sangat penting dalam hidupnya. Berperanan sebagai orang tua, nampak lebih nyata bagi wanita dibandingka pria, yang walaupun sekarang ini nampaknya pria banyak pula mengambil bagian secara aktif dalam mendidik anak-anak dibandingkan dengan apa yang nampak pada waktu-waktu yang lalu.
Apabila seseorang telah mulai memasuki hidup berumah-tangga dalam akhir masa remaja, maka orang dewasa yang bersangkutan mempersiapkan diri mengambil peranannya sebagai orang dewasa sejak usia dua puluhan sampai akhir usia tiga puluhan. Karena produktivitas atau kesuburuan yang dimanfaatkan dengan cepat (akhir masa remaja), maka banyak di antara orang dewasa ini yang telah memiliki cucu sebelum mereka mengakhiri masa dewasa awal.
Ada pula beberapa orang dewasa awal yang tidak kawin sampai mereka menyelesaikan pendidikan dan memulai karier mereka dalam suatu lapangan tertentu. Hal yang demikian ini nampak sekali terjadi dalam keluarga-keluarga besar, dimana wanita-wanita dewasa yang banyak adik berperan besar sebagai orang tua dalam membimbing adik-adik mereka (demikian pula pada pria dengan status yang sama). Banyak di antara dewasa awal memainkan peranan keorangtuaan (dalam arti melahirkan) berlanjut terus sampai dalam masa dewasa menengah atau usia setengah baya. Akan tetapi tingkat kesuburan dan kemampuan reproduktif telah jarang terjadi pada wanita dalam usia lebih dari  40 tahun.

Usia Memantapkan Letak Kedudukan
Kalau pada masa kanak-kanak dan masa remaja disebut sebagai masa pertumbuhan atau "growing-up", maka masa dewasa merupakan usia pemantapan letak kedudukan  atau "settling-down age".Sejak seseorang telah mulai memainkan peranannya sebagai orang dewasa, seperti pemimpin rumah tangga dan sebagai orang tua, serta mereka menyetujui hal itu sebagai peranannya, hal itu menjadi suatu keharusan untuk diikuti dalam pola-pola perilaku tertentu dalam banyak aspek kehidupannya.
Dengan pemantapan kedudukan (settles down)-nya, seseorang berkembang pola hidupnya secara individual, yang mana dapat menjadi ciri khas seseorang sampai akhir hayat. Banyak pula situasi yang membutuhkan perubahan-perubahan dalam pola hidup tersebut, dalam masa setengah baya atau masa tua, yang dapat menimbulkan kesukaran dan ganggungan-gangguan emosi bagi orang-orang yang bersangkutan. Kemantapan kedudukan ini biasanya dipengaruhi oleh pekerjaan yang dapat menjamin kelangsungan hidup ekonomis sampai akhir hayat. Dalam pada itu mereka berkesempatan pula mengambil kedudukan yang mantap dalam masyarakat, dalam mana ia secara relatif permanen memiliki status sosial yang relatif sama dengan apa yang diinginkannya.

Usia Banyak Masalah
Dalam masa dewasa awal banyak persoalan yang baru dialami. Persoalan-persoalan itu berbeda dengan persoalan yang pernah dialami dalam masa kanak-kanak mereka. Beberapa di antara persoalan tersebut merupakan kelanjutan atau pengembangan persoalan yang dialami dalam masa remaja akhir.
Setelah seorang dewasa awal menyelesaikan pendidikan sekolah mereka, maka menghadang pula persoalan yang berhubungan dengan pekerjaan dan jabatan. Kompleknya persoalan pekerjaan ini, disebabkan oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan intern itu sendiri, faktor-faktor lingkungan sosial termasuk orang tua, faktor kesempatan kerja dan lapangan kerja yang tersedia. Faktor-faktor intern yang meliputi ciri-ciri pribadi, sikap, kemampuan dan ketrampilan-ketrampilan khusus tertentu haruslah dimiliki oleh seseorang untuk dapat memasuki suatu lapangan pekerjaan tertentu.
Jika diidentifikasi masalahnya meliputi :
  • Pemilihan pekerjaan dan penyesuaian pekerjaan dengan minat, bakat dan keahlian dengan dunia kerja yang tidak sesuai.
  • Pemilihan teman hidup membutuhkan penyesuaian, baik terhadap calon istri/suami maupun terhadap orang-orang lain yang punya hubungan, beserta norma-norma dan nilai-nilai sosial yang berlaku.
  • Berhubungan dengan hal-hal keuangan. Persoalan ini mencakup aspek usaha mendapatkannya dan aspek pengelolaannya dalam pembelanjaan. Kebutuhan-kebutuhan dalam memenuhi tuntutan hidup perkawinan dan adanya minat-minat untuk memiliki barang-barang perlengkapan, mendorong seseorang untuk mendapatkan sumber keuangan lain yang mencukupi kebutuhan. Dalam hal keuangan menuntut adanya penyesuaian individu di dalamnya.

Usia Tegang Dalam Hal Emosi
Ketegangan-ketegangan emosi yang terjadi dalam masa dewasa awal, terutama sering dialami dalam parohan awal masa ini. Banyak di antara dewasa muda ini mengalami ketegangan emosi yang berhubungan dengan persoalan-persoalan yang dialaminya seperti persoalan jabatan, perkawinan, keuangan dan sebagainya.


 
Share:

MASA DEWASA

Setiap kebudayaan membuat pembedaan usia kapan seseorang mencapai status dewasa secara resmi. Pada sebagian besar kebudayaan kuno, status ini tercapai apabila pertumbuhan pubertas sudah selesai atau hampir selesai dan apabila organ kelamin anak telah berkembang dan mampu berproduksi. Sekarang umur 18 tahun merupakan umur dimana seseorang dianggap dewasa secara syah. Dengan meningkatnya lamanya hidup atau panjangnya usia rata-rata orang maka masa dewasa sekarang mencakup waktu yang paling lama dalam rentang hidup.
Elisabeth Hurlock seorang pakar psikologi perkembangan membagi masa dewasa dalam tiga batasan umur :
  1. Dewasa Awal dimulai periodenya dari umur 18 tahun sampai dengan 40 tahun
  2. Dewasa Madya dimulai periodenya dari umur 40 tahun -60 tahun
  3. Dewasa Lanjut dimulai periodenya dari umur 60 tahun sampai dengan lanjut usia.
Masing-masing pembagian usia dewasa tersebut mempunyai perbedaan baik fisik, minat keagamaan, kehidupan seks, kebutuhan mental dan rohani, cara pandang terhadap hidup dan kehidupan, dan penyesuaian lainnya.
Share:

About